Pulau Bunyu, Kalimantan Timur, Indonesia, maritim, laut, kapal, pelabuhan, penerbangan, ilmu pengetahuan, pesawat terbang, kapal selam, komunikasi, informasi, teknologi, kesehatan, medis, inspirasi, serba-serbi, Bisnis Tiket Pesawat, Agen Penjualan Tiket Pesawat Terbang, Koperasi Online Business Plan KSU-Nuari, Johan Suryantoro
PULAU BUNYU KALIMANTAN TIMUR || PULAU BUNYU KALIMANTAN TIMUR

BISNIS TIKET PESAWAT (BTP)
BISNIS TIKET PESAWAT (BTP) adalah layanan online booking tiket pesawat terbang dan peluang usaha untuk menjadi agen bisnis penjualan tiket pesawat terbang secara online, mudah, murah, dan cepat. KLIK DISINI untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang BISNIS TIKET PESAWAT (BTP).

Bagaimana memperlakukan Bahasa Indonesia?

Bagaimana memperlakukan Bahasa Indonesia?. Pada awal pemunculan dan pengembangannya, Bahasa Indonesia diupayakan oleh generasi sebelumnya sebagai bahasa yang bernuansa demokratis dan kerakyatan. Siapa saja penggunanya, dari kalangan mana saja, akan menggunakan Bahasa Indonesia yang sama. Tidak ada Bahasa Indonesia halus dan Bahasa Indonesia kasar, seperti umumnya dimiliki pada tingkatan bahasa daerah. Artikel dibawah ini merupakan pembahasan yang menarik tentang Bahasa Indonesia.

LULUSKAH KITA BERBAHASA?
Oleh : M Alfan Alfian (Dosen di Universitas Nasional, Jakarta)

"Bahasa menunjukkan bangsa" merupakan sebuah peribahasa yang sudah sangat lazim kita ketahui. Peribahasa itu mirip dengan peribahasa Jawa desa mawa cara, negara mawa tata. Tetapi kelihatannya bahasa jauh lebih penting di atas "cara" dan "tata". Dengan bahasa lah segala macam kesepahaman dipersatukan, agar kreatifitas dan inovasi penentu kemajuan bangsa selalu hadir dan awet.

Kita berterimakasih dengan Bahasa Indonesia, bahasa nasionalisme kita sebagai bangsa. Dalam suatu seminar, Sosiolog Yudi Latif, yang disertasinya menguraikan tentang hal-ikhwal peran cendekiawan Muslim dalam pembentukan dan perjuangan bangsa Indonesia, menjelaskan tentang betapa kuatnya keinginan para pejuang tempo dulu mewujudkan suatu bahasa, Bahasa Indonesia.

Memang kemudian kita catat adanya Sumpah Pemuda, 1928. Bahwa quasi-nasionalisme kita mulai terbentuk oleh kesadaran imajinatif akan adanya suatu tanah air, bangsa, dan bahasa : Indonesia. Mereka adalah, meminjam Bennedict R’OG Anderson adalah komunitas imajiner (imagine community), artinya terbuai oleh imajinasi bersama, berdasarkan kesamaan visi dan pengalaman bersama untuk mewujudkan obsesi membentuk suatu bangsa.

Yudi Latif menyebut sosok Siti Sundari, seorang perempuan terpelajar pada zaman Sumpah Pemuda, yang berjuang keras menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidato-pidatonya. Kalau kita simak lagi di masa kini, pilihan kata atas pidatonya itu lucu-lucu, campuran dengan Bahasa Belanda, dan tentu saja logat Indonesianya pun juga terasa aneh.

Munculnya Bahasa melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia, menurut Nurcholish Madjid tak lepas dari kearifan bersama kalangan nasionalis, dari semua kelompok yang ada yang memandang bahwa ia telah menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan sejak berabad-abad.

Bagaimana dengan Bahasa Jawa, sebagai bahasa kelompok mayoritas kalangan pergerakan nasional saat itu? Ia tetap dihargai, sebagaimana Bahasa Sunda dan bahasa-bahasa daerah lainnya. Tetapi, Bahasa Jawa tidak dapat secara simpel diterapkan sebagai "bahasa nasional", karena kerumitan tingkatan-tingkatan kebahasaannya. Kita membutuhkan suatu bahasa yang justru mempertegas egalitarianisme di antara sesama anak bangsa, bukan bahasa yang masih memelihara iklim feodalisme. Tradisionalitas kita memang tak lepas dari feodalisme, suatu praktik sosial yang menolak egalitariansme alias kesederajatan.

Bahkan sampai kini masih terasa, hanya saja bentuknya lain, tidak semata-mata ditunjukkan dalam laku dhodhok alias berjalan sambil duduk saat menghadap raja dalam ketoprak-ketoprak alias sandiwara-sandiwara tradisional, tetapi sudah modifikatif.

Selama rakyat masih dipandang sebagai obyek oleh para pemimpin yang miskin empati dan mabuk-larut di dalam kegelimangan fasilitas, selama mereka dimanfaatkan saja untuk mengiyakan alias mendukung suatu citra tertentu dalam politik elektoral, maka rasanya hal sedemikian itu jauh lebih parah ketimbang feodalisme.

Dalam sebuah diskusi, seorang teman dari sebuah lembaga swadaya masyarakat program yang punya anggaran dana dari luar negeri dan suka menyeleksi program-program pendidikan demokrasi, menunjukkan suatu data menarik dari sebuah jurnal internasional, yang mengaitkan antara jalannya demokrasi dan nilai tradisionalitas.

Bahwa, Indonesia termasuk yang menonjol dalam konteks jalannya demokrasi. Tetapi, kecenderungan nilai tradisionalitas jauh lebih tinggi lagi. Itu artinya kadar feodalisme kita dalam berpolitik juga masih cukup tinggi. Feodalisme, diekspresikan dalam hubungan-hubungan klientalisme, familiisme, dan dengan mengajukan sentimen-sentimen primordial lain.

Mungkin itu sebabnya, dalam banyak pilkada, calon kepala daerah dan yang terpilih melingkar-lingkar di situ-situ juga : sehabis suami, istri, kalau tidak anak dan kemenakan. Dalam konteks politik nasional, kita juga masih menyaksikan adegan-adegan politik dinasti, walaupun fenomena politik dinasti bisa terjadi di mana saja, dan bukan sesuatu yang salah.

Feodalisasi bahasa Indonesia kita dalam politik, juga sesungguhnya masih menonjol. Coba kita simak bagaimana para politisi senior dan junior terbiasa berbahasa dalam pergaulan mereka sehari-hari. Yang senior suka dipanggil kakanda (dari kata "kakak" dan "anda"), ayunda ("ayu" dan "anda", dimana "ayu" terkesan kata yang sangat dipaksakan), abangda, ayahnda, ibunda, tetapi tidak ada kakeknda dan neneknda.

Akhiran, kalau memang itu layak disebut akhiran "nda", rasanya berkonotasi feodal. Benar bahwa ia dimaksudkan untuk menghormati, tetapi nuansanya tetap saja "kepentingan", dan rasanya juga "berlebihan" yang hanya relevan dipakai dalam konteks sanjungan bukan kesederajatan fungsional. Bukankah cukup kita panggil Pak, Bu, Bung, Kak, atau Bang?

Untuk melanggengkan legitimasi neo-feodal, maka yang senior lantas juga larut dalam praktik berbahasa nda-nda. Dengarkan kalimat-kalimat berikut : "Hai, apakabar adinda? Wah adinda hebat sekali lho, kakanda sangat senang dengan prestasi adinda, bla-bla-bla..."

Secara sengaja atau tidak sengaja, struktur feodalisme pun terkokohkan dalam berbahasa. Bahwa yang yunior harus pandai-pandai memanfaatkan kalimat-kalimat yang hiperbolik, walaupun tidak selalu dengan frasa duli tuanku alias injih Ndoro (baik Tuan) –tapi coba rasakan dengan frasa "siap Abangku", "baik Kakanda", "alhamdulillah sehat Ayahnada".

Dalam sebuah acara talk show di televisi dua orang profesor, masing-masing pakar manajemen dan sejarah Islam yang tergolong sangat populer di negeri ini mengaku pernah tidak lulus ujian Bahasa Indonesia. Tetapi, sekarang kita tahu bahwa keduanya penulis produktif. Prof. Rhenad Khasali adalah pakar manajemen dan kolomnis kenamaan. Demikian juga Prod Azyumardi Azra.

Saya jadi teringat, bahwa konon mata pelajaran bahasa Indonesia adalah wajib lulus dalam Ujian Nasional alias unas, yang "ditakuti" oleh para pelajar itu. Katanya banyak yang lulus mata pelajaran ini. Mungkin kita langsung bertanya, ada apa memangnya dengan bahasa Indonesia kita? Begitu susahnya kah ia saat diujiankan?

Dalam sebuah kolomnya, Lie Charlie, seorang pakar bahasa tinggal di Bandung, pernah memaparkan bahwa ujian Bahasa Indonesia kita memang rumit, seperti menebak kuis. Cuma, tebakan kuis kita kali ini, tidak ada call my friend atau ask the audiens.

Misalnya, antonim itu apa? Homonim? Antonim? Sinonim? Mana yang termasuk kalimat pras prototo? Mana yang hiperbolik? Mana yang contradictio interminis? Lantas ada empat pilihan jawaban yang mirip-mirip. Saya tidak tahu persis, apa relevansinya pengetahuan detil soal hal-hal semacam itu dengan praktik berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi, untungnya, katanya unas sudah ditiadakan tahun ini.

Yang efektif untuk mengurangi kesalahan dalam berbahasa adalah, belajar dari dua profesor di atas, mengarang. Pelajaran mengarang, mestinya yang harus digenjot. Pengetahuan berbahasa bukan tak lebih penting. Tetapi kalau mengarang, semua pengetahuan itu dicoba diaplikasikan. Sedemikian pentingnya mengarang, Pemerintah Thailand baru-baru ini prihatin dengan mengecambahnya fenomena facebook dan twitter, yang dipandang menggeser dominasi bahasa nasional mereka. Facebook dan Twitter diduga menjadi penyebab mengapa kemampuan berbahasa pelajar Thailand makin lemah. Karena itu, Kementerian Budaya Thailand menyarankan agar para pelajar kembali ke tradisi menulis surat.

Kita tahu bahwa Bahasa Thailand itu khas, alvabetnya juga khas, seperti huruf Jawa, tetapi tampak lebih rumit. Coba saja lihat majalah-majalah Thailand yang konsisten berbahasa Thailand, dimana sekilas pandang seperti sulaman-sulaman "bolah ruwet", benang ruwet.

Kegelisahan pejabat Thailand itu sesungguhnya wajar saja, bahwa bahasa-bahasa di dunia, memang sedang "mempertahankan diri" dari "serbuan" bahasa Inggris, yang kursus-kursusnya menjamur di mana-mana.

Kembali ke soal mengarang atau menulis (catatan harian, artikel, surat atau apapun), ia penting bagi upaya pelestarian bahasa, walaupun tidak dimaksudkan secara khusus pelakunya menjadi pengarang (profesional) atau ahli bahasa (formal). Bahasa tulis alias non-verbal, biasanya lebih terstruktur, cermat, karena ada mekanisme koreksi atau editing, walaupun bahasa gaul juga sudah begitu jauh masuk ke bahasa tulis, dalam konteks status facebook atau komentar-komentar ringkas sms dan twitter.

Ada seorang teman yang biasa menulis biografi tokoh-tokoh, seorang penulis kenamaan, mengaku sakit kalau tidak menulis. Kemudian saya bercanda, "Wah, kok sudah seperti politisi atau pejabat". Tapi ya memang begitu, bahwa tugas pengarang atau penulis adalah mengarang dan/atau menulis. Kalau tidak begitu, bisa pegal-pegal seluruh badan.

Untuk menjadi pengarang, tidak lantas harus menjadi ahli bahasa (secara formal). Arswendo Atmowiloto itu pengarang, bukan ahli bahasa. Benar. Emha Ainun nadjib itu sekedar kolomnis, bukan ahli bahasa. Ya. Harimurti Kridalaksana itu ahli bahasa, bukan pengarang. Betul juga. Tapi, Arswendo, Emha, Andrea Hirata, Rhenald Khasali, Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Wimar Witoelar, Jaya Suprana, Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, dan sederet nama-nama pengarang, penulis, kolomnis lain, tak bisa mempersembahkan sesuatu yang menarik kepada pembaca, tanpa kemampuan berbahasa yang baik.

Mereka tidak anti pada bahasa baku. Tetapi, bukan para pelanggar utama bahasa baku. Bahasa yang baik adalah bahasa yang hidup, demikian pendapat Goenawan Mohamad. Suatu Bahasa Indonesia yang mudah ditangkap, dimengerti, justru karena sederhana dan egaliter, merakyat.

Omong-omong, pernahkah Anda tidak lulus ujian Bahasa Indonesia? Kalau pernah, berarti, setidaknya Anda punya teman dua orang profesor di atas.

antaranews.com
Lanjutkan membaca “Bagaimana memperlakukan Bahasa Indonesia?”  »»

Film tentang keruntuhan Zionisme di tahun 2048

Film tentang keruntuhan Zionisme di tahun 2048. Out Of The Forest, sebuah film yang bercerita tentang runtuhnya Negara Zionis Israel dan disutradarai Yaron Kvetori ditolak untuk diputar di satasiun televisi Israel. Film ini perwujudan protes dari seorang warga negara Israel.

FILM DOKUMENTER RAMALKAN ZIONIS RUNTUH 2048

Televisi publik Israel berbahasa Ibrani menolak untuk menyiarkan film dokumenter Zionis berjudul 'Out Of The Forest', yang diproduksi baru-baru ini. Film tersebut mengambarkan potret umum sebuah masa depan tanpa entitas Zionis, pada tahun 2048, yakni setelah seratus tahun pendirian entitas Zionis dan Nakba Palestina.

Kantor berita Asy Syarq al Awsath mengatakan, produser dan sutradara film Yaron Kvetori langsung melancarkan kecaman keras terhadap situasi internal di entitas Zionis dengan membandingkan dua situasi dulu dan saat ini. Kepada surat kabar The Jerusalem Post, Kvetori mengatakan, "Aku merasa kita berjalan pada arah yang salah dan mengancam penghancuran negara. Dan ini terjadi tidak harus karena ancaman dari luar, tapi dari dalam."

Kvetori menyampaikan pendapatnya terhadap entitas Zionis bahwa entitas ini telah terbagi dan menghimpun kelompok-kelompok orang yang saling berselisih. Tak seorang pun dari mereka peduli pada yang lain. Melalui film dokumenternya dia memberikan gambaran fiksi tentang masa depan suram yang mengabarkan runtuhnya masyarakat Zionis setelah 38 tahun mendatang, melalui cerita-cerita karakter fiksi yang ditampilkan film tersebut.

Film ini bercerita tentang peristiwa-peristiwa tahun 2048, setelah berakhirnya entitas Zionis. Cerita ini dimulai saat seorang pemuda menemukan video yang direkam kakeknya pada tahun 2008, saat krisis melanda masyarakat Zionis, tanpa menyebutkan secara pasti penyebab utama berakhirnya Israel.

Pemuda itu menemui lima pengungsi Zionis dan bertanya kepada mereka tentang sebab runtuhnya 'negara' mereka. Salah seorang di antara mereka, yang tidak lain adalah seorang rabi, menjelaskan bahwa Theodor Herzl (pendiri Zionisme) membawa sebuah misi dari Tuhan dan misi itu sudah berakhir.

Seorang pengungsi Zionis lainnya berpendapat bahwa sistem pendidikan adalah penyebabnya. Pengungsi yang ketiga secara samar-samar menyatakan bahwa sebab runtuhnya Zionis adalah karena kekerasan, tanpa pemilahan: apakah sumber kekerasan itu adalah perang saudara atau invasi dari luar. Pembuat film ini berpendapat semuanya itu mewakili sebab-sebab runtuhnya entitas Zionis. Film ini berdurasi selama 50 menit.

republika.co.id
Lanjutkan membaca “Film tentang keruntuhan Zionisme di tahun 2048”  »»

5 karakter pendukung sukses

5 karakter pendukung sukses. Kesuksesan selalu menjadi dambaan setiap orang. Tapi kenyataannya untuk bisa meraih kesuksesan atau keberhasilan tidak semudah saat kita mengucapkannya atau membayangkannya. Perlu persiapan dan perjuangan keras untuk mendapatkan kesuksesan ini. Sebuah artiket menarik yang berbicara tentang lima karakter yang sangat dibutuhkan dalam meraih sukses dibawah ini diambil dari situs Bisnis Indonesia.

5 SUKSES KARAKTER PERSONAL
Oleh : Anthony Dio Martin

Apakah trait itu? Dalam bahasa psikologi, trait menggambarkan suatu sifat atau kecenderungan yang agak permanen yang lebih sulit diubah. Dalam bahasa awamnya, kita sering kali menggunakan istilah karakter. Biasanya, lawan dari istilah trait ini adalah 'state'. 'State' menggambarkan suatu kondisi yang lebih temporer atau sementara. Jadi, kembali ke topik pembahasan kita kali ini. Mari kita bicara soal karakter-karakter penting kesuksesan yang perlu dimiliki oleh seseorang untuk sukses atau berhasil.

Kali ini, sebagai model untuk pembahasannya, kita akan menggunakan tokoh terkemuka pada 2010 yang dijuluki juga sebagai manusia terkaya di dunia, yakni Carlos Slim Helu dari Meksiko. Nilai kekayaannya bersihnya diperkirakan sekitar US$53,5 miliar dan 'sedikit' mengalahkan posisi Bill Gates yang hanya sekitar US$ 53 miliar. Dengan kekayaan ini, maka untuk pertama kalinya daftar urutan orang terkaya di dunia diduduki oleh orang dari negara yang termasuk kategori negara berkembang. Bagaimana pelajaran tentang sukses yang bisa dipelajari dari tokoh terkaya di dunia ini?

Bayangkan, dengan latar belakang dari keluarga yang berasal dari Lebanon, sebagai anak terkecil, Carlos sudah harus membantu ayahnya dengan tokonya. Tentu saja, dengan latar belakang keluarga dari Lebanon yang berbeda sekali dengan kondisi di Meksiko, kemampuan bergaul dan beradaptasi adalah kunci terpenting. Di sinilah seorang Carlos belajar untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kualitas lain yang diperlihatkan oleh Carlos adalah kualitas untuk berjuang dengan gigih. Bahkan, sejak usia 10 tahun, ia telah mulai membantu keluarganya berjualan minuman dan makanan ringan. Kegigihan dan disiplin ini pun masih terus dipraktikkannya hingga ia dewasa. Bahkan, banyak keberhasilannya diperoleh dengan cara membeli saham-saham murah ketika terjadi krisis dan ia terus berjuang gigih sementara yang lain, mungkin melihat tidak ada lagi harapan. Sebagai contohnya, adalah tatkala ia membeli saham Telmex, salah satu jasa operasi telekomunikasi di negera tersebut.

Yang menarik, saat terjadi krisis di Meksiko pada 1987, ketika semua orang menjadi panik, ia justru membeli saham-saham murah dan menjualnya dengan keuntungan berlipat ketika bursa mulai membaik. Sikap optimistisnya ia ungkapkan ketika bicara soal krisis, "Anda tahu? Krisis selalu sementara saja. Tidak ada kesulitan yang berlangsung selama 100 tahun, selalu ada pemulihan".

5 Trait penting!

Dari kisah orang terkaya di dunia ini, kita bisa belajar mengenai beberapa point penting yang seperti dikatakan oleh seorang penulis majalah 'Money', Murad Ali. Bahkan menurut Murad Ali, trait-trait ini bukan saja hanya dalam hal pengelolaan uang, melainkan juga berlaku di dalam pengelolaan hubungan antarmanusia. Apakah kelima trait penting tersebut?

Pertama, adalah emotional intelligence atau kecerdasan emosional. Telah banyak dikisahkan bagaimana orang menjadi gagal dalam karier dan hubungan keluarga gara-gara kecerdasan yang satu ini tidak terasah.

Salah satu ciri utama dalam kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan dengan lingkungan di mana pun kita berada. Mereka-mereka yang kecerdasan emosionalnya kurang, cenderung akan kaku, sering memaksakan kehendak dan sering kali mengalami 'konfik' dengan lingkungannya sehingga tidak bisa diterima.

Dalam kasus Carlos, ia cukup sadar diri dan peka lingkungan bahwa di sekitar kehidupannya adalah masyarakat Meksiko yang kebanyakan berada di bawah garis kemiskinan. Ia sendiri cukup'cerdik' untuk tidak hidup jor-joran ataupun pamer kekayaan. Ia bahkan hidup dengan sangat sederhana, mengendarai mobil Mercedez kunonya serta tinggal di rumah yang sudah ia tinggali sejak 40 tahun. Ia pun cukup bisa bergaul dengan lingkungan masyarakat sekitarnya, sehingga masyarakat sekitarnya juga membela dan mencintainya. Di sisi lain, kemampuan pergaulannya juga luar biasa, bahkan Presiden Carlos Salinas-pun menjadi temannya.

Kedua, adalah kegigihan serta keyakinan diri. Masih ingat dengan kisah kesuksesan salah tokoh penemu terbesar pada abad ke-20, Thomas Alva Edison? Ia mengalami kegagalan dan kehancuran lebih banyak daripada kesuksesannya. Namun, salah satu kualitas yang ia tunjukkan adalah kegigihannya serta kemauannya untuk bangkit kembali. Dari kisah orang-orang yang sukses, termasuk kisah Carlos yang kaya raya, tidaklah selalu penuh dengan keberhasilan. Namun, ada satu komentar yang perlu kita selalu ingat yakni, "Banyak orang mengalami kegagalan karena mereka menyerah terlalu cepat!"

Ketiga, trait kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang baru dan menarik. Kreativitas juga berarti tidak macet di satu titik tertentu. Kebanyakan orang cenderung ketika sukses, ia terjenak di dalam zona nyamannya dan tidak lagi berusaha untuk meningkatkan dirinya. Banyak yang ketika sukses terjerembab dalam sindrom kesuksesan dengan merasa bahwa, "Aku sudah menjadi yang terbaik". Namun, belajar dari kisah para orang sukses adalah prinsip tidak mudah berpuas diri dan terus bergerak. Mereka tahu bahwa, saat ini mereka bisa saja yang terbaik, tetapi besok bisa jadi ada orang lain yang akan mengalahkan mereka. Karena itulah, mereka tidak berhenti bergerak dan berinovasi.

Keempat, adalah kemampuan untuk mengelola rasa takut. Dalam hal berinvestasi, rasa takut adalah sesuatu yang mesti dikelola. Sering kali kita mengenal istilah 'calculated risk' atau risiko yang diperhitungkan. Namun, untuk bisa mengambil calculated risk ini, kadang-kadang ada perasaan takut yang harus diatasi. Seperti dikatakan oleh pepatah, orang yang paling berani bukanlah orang yang tidak punya rasa takut tetapi orang yang mengelola ketakutannya. Hal ini bisa kita pelajari dari Carlos Slim, saat krisis terjadi di Meksiko. Sementara rata-rata orang takut untuk berinvestasi. Justru momen seperti itulah yang ia pergunakan sebagai kesempatan untuk berinvestasi.

Kelima, adalah semangat terus bertanya dan menggali. Masih ingatkah tatkala Einstein ditanya apakah kunci rahasia ia menemuka teori relativitas. Menurutnya sederhana, "Kuncinya, saya masih terheran-heran dan mempelajari soal cahaya, sementara orang dewasa lainnya sudah berhenti bertanya". Demikian pula, pada orang-orang sukses ditemukan semangat selalu menggali dan bertanya. Mereka bertanya "Mengapa sesuatu terjadi?" dan melakukan sesuatu untuk meningkatkan dirinya. Pada diri Carlos, satu kualitas luar biasanya adalah kemampuan untuk bertanya bagaimana orang lain bisa menjadi berhasil dan ia bertanya apa yang bisa ia lakukan dalam kemampuannya. Itulah yang membuatnya sukses! Sekarang, mari kita tanamkan trait-trait ini ke dalam diri kita serta mengasahnya.

web.bisnis.com
Lanjutkan membaca “5 karakter pendukung sukses”  »»

Baterai kocok buatan perusahaan elektronik Jepang

Baterai kocok buatan perusahaan elektronik Jepang. Brothers Industries, perusahaan di negeri Jepang yang biasanya memproduksi mesin ketik, telah melakukan terobosan di bidang energi listrik dengan memproduksi baterai kocok. Produk baterai ini disebut sebagai Baterai Vibration Energy Cells. Dengan cara dikocok beberapa kali, daya listrik segera dihasilkan oleh baterai tersebut.

TEROBOSAN BATERAI KOCOK BROTHERS

Sebuah perusahaan elektronik Jepang memproduksi sebuah generator bersumber getaran yang bisa menggantikan peran baterai standar. Brother Industries, yang lebih dikenal dengan produk mesin ketiknya, mengklaim alat ini sanggup menggantikan peran baterai AA atau AAA untuk sjeumlah penggunaan.

Pada sebuah acara di Tokyo, Brothers menunjukkan alat ini menghidupkan sebuah kendali jarak jauh (remote control), sebuah tombol untuk menyalakan lampu dan sbeuah senter LED. Mekanismenya bekerja mirip dengan dinamo sepeda, hanya bedanya dengan dikocok beberapa kali daya listrik langsung dihasilkan. "Baterai Vibration Energy Cells kami menciptakan daya listrik dengan pengantar sebuah per, magnet, dan kondenser yang menghasilkan listrik. Semua ini ada dalam inti baterai. Karena daya yang dihasilkan hanya sedikit maka alat ini didesain untuk dipakai pada perangkat seperti remote TV dan alat LED, yang hanya membutuhkan daya rendah dan tidak makan daya listrik terus-menerus.," seorang juru bicara Brother mengatakan pada BBC News.

Kocok energi

Ide dibalik teknologi ini adalah adanya kebutuhan untuk menggantikan penggunaan baterai yang mengandung racun yang membahayakan lingkungan. Sejauh ini dua produk contoh ukuran AA baru menghasilkan voltase sebesar 3,2V atau elbih rendah, cuma cukup untuk mengisi daya listrik alat seperti remote control.

Meski demikian menurut Carl Telford, seorang analis pada perusahaan konsultan Strategic Business Insights, mengatakan baterai ini merupakan terobosan potensial. "Hebat karena kalau butuh kekuatan listrik sebesar baterai AA cukup dikocok; misalnya untuk remote control. Ukurannya juga kecil, padat, dan langsung bisa dipakai pada sumber daya listrik yang kita kenal. Brother bilang alat ini bisa menghasilkan daya listrik pada frekuensi rendah, sekitar 4-8Hz - ini mengesankan. Kalau anda jalan-jalan dengan alat ini di kantong maka akan dihasilkan getaran dengan frekuensi sekitar 2Hz. Anda memang harus mengocok alat ini kencang-kencang, tapi bisa lah," tambahnya pada BBC News.

Sementara perusahaan lain juga mengejar target menemukan sumber baterai baru tanpa muatan standar. Perusahaan AS TenXsys Inc. tengah mengembangkan teknologi Kinetic Energy Scavenging untuk berbagai piranti termasuk untuk alat militer. Sementara perusahaan seluler Inggris Orange baru-baru ini mengungkap produk terbarunya Power Wellies, yang dibuat dengan kerjasama dengan pakar energi terbarukan GotWind.

bbc.co.uk
Lanjutkan membaca “Baterai kocok buatan perusahaan elektronik Jepang”  »»

 

KLIK DISINI UNTUK KEMBALI KEATAS

Pulau Bunyu, Kalimantan Timur, Indonesia, maritim, laut, kapal, pelabuhan, penerbangan, ilmu pengetahuan, pesawat terbang, kapal selam, komunikasi, informasi, teknologi, kesehatan, medis, inspirasi, serba-serbi, Bisnis Tiket Pesawat, Agen Penjualan Tiket Pesawat Terbang, Koperasi Online Business Plan KSU-Nuari, Johan Suryantoro