Hijau
Kamis, 08 Mei 2008
"Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar", (QS, Ar Ruum ayat 41). Merujuk kepada firman Allah tersebut dan didukung oleh fakta yang ada, ternyata manusia merupakan pelaku utama terjadinya perusakan terhadap ekosistem dimuka bumi ini. Sering kali pencemaran diartikan secara sempit sehingga jangkauan pemahamanpun terbatas pada hal-hal yang bersifat insidentil pula. Pada hal pencemaran dan dampak yang ditimbulkan baru dapat diketahui setelah kejadian berlangsung puluhan tahun kemudian, seperti kasus teluk Minamata (Jepang) pembuangan limbah industri telah berlangsung sejak awal abad ke 20, tetapi akibat yang dirasakan oleh masyarakat baru pada tahun 1950 dan tercatat sampai bulan April 1996 hampir 2.000 orang yang menjadi korban.Kemajuan sektor industri telah memberi manfaat kemakmuran bagi sebagian masyarakat, dimana perkembangan industri tersebut membawa harapan yang besar akan kesejahteraan penduduk tetapi seiring dengan hal tersebut, juga dapat menimbulkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. Bila dikemudian hari pencemaran menimbulkan bencana dan mendatangkan protes dari masyarakat barulah disadari bahwa pengelolaan lingkungan harus mendapat proporsi sebagaimana mestinya. Alasan ini cukup menyadarkan kita untuk segera mengawali pengendalian pencemaran sebelum keadaan menjadi rusak.
Awal dekade 70an dunia mulai menyadari akan krisis lingkungan yang dalam tempo 300 tahun terakhir sekitar 200 spesies fauna telah punah, terutama dari jenis unggas dan mamalia menyusui dan banyak lagi yang akan menyusul kepunahan ini. Misalnya burung Jalak Bali, Badak Jawa, Harimau Sumatera dan Orang Utan Kalimantan. Akankah spesies-spesies ini juga akan kita biarkan untuk musnah? Hingga generasi dibelakang kita hanya dapat melihat satwa tersebut dari bahan bacaan dan museum saja.
Krisis moneter yang terus mendera negara kita dan menyebabkan hampir 40 juta penduduk berubah menjadi penganggur dan diikuti oleh ledakan kemiskinan yang terus menghimpit. Jika hal ini tidak dapat ditangani dengan baik, maka resiko yang akan ditanggung oleh lingkungan sangatlah berat. Seperti terjadinya penebangan dan pembakaran hutan, hukum yang mati suri dan masyarakat seperti menemukan kebebasan untuk berbuat semaunya tanpa memandang resiko yang akan menimpa akibat perbuatan tersebut dikemudian hari.
Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada, guna mencapai tujuan pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Makin besar tersedianya sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, makin besar pula peluang untuk meningkatkan taraf kehidupan suatu bangsa. Namun sejalan dengan semakin lajunya pembangunan makin kompleks pula dampak yang ditimbulkannya. Jadi ketersediaan sumber daya yang besar tidak selamanya berbanding lurus dengan kesejahteraan yang akan dinikmati masyarakat, jika pengelolaannya kurang tepat.
Pengendalian pencemaran dan dampak negatif lainnya harus diawali sejak pembuatan rancang bangun suatu pabrik. Bagaimanapun juga jika lingkungan terlanjur menjadi rusak. Untuk mengembalikannya pada kondisi semula akan sangat sulit dan memerlukan biaya yang sangat mahal. Seperti pada kasus tumpahan minyak dilaut, sekali minyak masuk kelaut hanya 15% saja yang dapat direcovery ulang dengan menggunakan teknologi dan peralatan yang tepat, sisanya sebesar 85% membuat kehidupan aquatik menjadi merosot.
Pengendalian pencemaran merupakan suatu upaya untuk memulihkan kealpaan yang selama ini terjadi. Menata ulang pranata teknologi dan konsepnya menuju pembangunan yang berwawasan lingkungan (eco development) dengan mempertimbangkan kelestarian alam dan kemampuan daya dukung sumber daya yang ada (carrying capacity). Sarana yang digunakan untuk mendeteksi dampak pembangunan ini adalah dengan pelaksanaan Study Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dengan pelaksanaan Amdal, secara dini dapat diperkirakan dampak yang akan timbul dikemudian hari baik positif maupun negatif, maka akan dapat diproteksi dampak negatif dengan memaksimalkan dampak positifnya.
Jika kita bertekat untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dengan rencana prioritas yang kokoh dalam hal ini kita dapat memulainya dari rumah tangga. Misalnya dengan menanamkan penghargaan terhadap alam kepada anak-anak kita dengan cara melaksanakan penghematan terhadap air, listrik, telephone, meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan sumber daya energi yang dapat diperbarui, serta melindungi keaneka ragaman hayati. Semua investasi ini tidaklah datang secara tiba-tiba, tetapi hasilnya sangat berarti bagi kehidupan ini. Kita sebagai bangsa yang mengakui Tuhan sebagai sumber kehidupan ini, kesadaran akan lingkungan hendaklah kita letakkan pada dasar trasedental yang luhur.
Semoga…………………………!!
***Fatruzi
Label: LINGKUNGAN HIDUP
| Share |
|
| Tweet | Follow @bunyuonline |
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Hijau |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2008/05/hijau.html |
