Terapi kanker bisa menghilangkan sidik jari
Sabtu, 30 Mei 2009
Mungkin peristiwa semacam ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Tapi apa yang dialami oleh seorang laki-laki berusia 62 tahun dari Singapura, oleh sumber tulisan ini hanya disebut sebagai Mr. S, adalah kasus yang pertama kali diberitakan. Ini terjadi ketika pada bulan Desember tahun lalu, saat Mr. S melakukan perjalanan rutin ke AS untuk menengok sanak keluarganya yang memang tinggal disana. Tapi tiba-tiba dia harus menjadi tertahan selama kurang lebih empat jam di Bandara. Petugas bandara melihat dari hasil fingerprint scan (scan sidik jari) bahwa orang tua tersebut secara administrasi dianggap tidak pernah ada. Bagaimana ini bisa terjadi? Mungkin ini peristiwa sudah pernah terjadi sebelumnya. Tapi apa yang dialami oleh seorang laki-laki berusia 62 tahun dari Singapura, oleh sumber tulisan ini hanya disebut sebagai Mr. S, adalah kasus yang pertama kali diberitakan. Ini terjadi ketika pada bulan Desember tahun lalu, saat Mr. S melakukan perjalanan rutin ke AS untuk menengok sanak keluarganya yang memang tinggal disana. Tapi tiba-tiba dia harus menjadi tertahan selama kurang lebih empat jam di Bandara. Petugas bandara melihat dari hasil fingerprint scan (scan sidik jari) bahwa orang tua tersebut secara administrasi dianggap tidak pernah ada. Bagaimana ini bisa terjadi?
Mr. S diidentifikasikan dalam jurnal medisnya telah menjalani kemoterapi untuk perawatan penyakit kanker yang bersarang di kepala dan kanker leher. Diduga obat yang diberikan padanya, yaitu jenis capecitabine (merk Xeloda) menyebabkan Mr. S terkena dengan apa yang disebut sebagai syndrom kemoterapi acral-induced erythema. Yaitu gejala pembengkakan, rasa sakit, dan terkelupasnya kulit pada tangan dan kaki. Bahkan hingga dirinya harus kehilangan sidik jari yang asli.
Eng-Huat Tan, dokter yang selama ini menangani Mr. S adalah adalah konsultan Onkologi senior di National Cancer Center – Singapura. Dr. Tan sudah menerbitkan kejadian ini melalui tulisan yang berjudul Annals of Oncology yang direkomendasikan kepada setiap pasiennya yang akan bepergian ke AS. Maksudnya agar kejadian yang menimpa pada Mr. S tidak terjadi pada para pasien tersebut.
Oleh pejabat bandara akhirnya Mr. S mendapat ijin dan diperbolehkan memasuki wilayah negara AS karena Mr. S dianggap bukan merupakan ancaman bagi keamanan nasional Negara itu. Mr. S mengatakan dia tidak melihat bahwa sidik jari telah hilang sebelum berangkat untuk perjalanan ke AS itu. Sementara itu, dokter yang menanganinya juga menyebutkan bahwa tidak ditemukan informasi lainnya tentang pasien kemoterapi yg mengeluh sidik jarinya hilang.
Seorang ahli forensik, Edward Richards, yang juga menjabat sebagai direktur pada Program in Law, Science and Public Health di Universitas Louisiana – AS, menjelaskan bahwa "penyakit lainnya, misalnya rashes dan sejenisnya dapat menyebabkan gangguan vesicular pada kulit di jari-jari anda. Itu merupakan gejala dari efek pemberian obat". Sebagai catatan, dia juga menyebutkan, "Secara umum kulit akan berada dalam keadaan normal, kecuali memang terjadi kerusakan yang permanen pada jaringan. Itu masih bisa diperbaiki."
Pemindaian sidik jari dan pemindaian biometrics lainnya menjadi prosedur yang umum dilakukan pada orang-orang yang akan memasuki wilayah AS, misalnya melalui bandara. Prosedur ini diterapkan untuk menghindari terjadinya ada orang yang memiliki pasport dengan mengguna nama lain. Dan teknologi pemindaian terbukti sangat membantu pemberlakuan prosedur ini. Tapi bagaimana jika ada orang-orang yang bernasib seperti Mr. S. Atau bahkan dengan sengaja telah melakukan penggantian sidik jari. Kasus seperti ini akan menjadi problem tersendiri yang dihadapi oleh teknologi pemindaian. Tapi solusinya sudah disediakan. Jika kasus itu terjadi lagi, pemerintah AS akan menyediakan konsultan Worldwide, LLC, yang memiliki para ahli untuk pemeriksaan sidik jari, ahli forensik dan biometric yang biasanya bekerja untuk Departemen Pertahanan AS dan perusahaan Lockheed Martin.
sumber tulisan : cnn.com, scientificamerican.com
Mr. S diidentifikasikan dalam jurnal medisnya telah menjalani kemoterapi untuk perawatan penyakit kanker yang bersarang di kepala dan kanker leher. Diduga obat yang diberikan padanya, yaitu jenis capecitabine (merk Xeloda) menyebabkan Mr. S terkena dengan apa yang disebut sebagai syndrom kemoterapi acral-induced erythema. Yaitu gejala pembengkakan, rasa sakit, dan terkelupasnya kulit pada tangan dan kaki. Bahkan hingga dirinya harus kehilangan sidik jari yang asli.
Eng-Huat Tan, dokter yang selama ini menangani Mr. S adalah adalah konsultan Onkologi senior di National Cancer Center – Singapura. Dr. Tan sudah menerbitkan kejadian ini melalui tulisan yang berjudul Annals of Oncology yang direkomendasikan kepada setiap pasiennya yang akan bepergian ke AS. Maksudnya agar kejadian yang menimpa pada Mr. S tidak terjadi pada para pasien tersebut.
Oleh pejabat bandara akhirnya Mr. S mendapat ijin dan diperbolehkan memasuki wilayah negara AS karena Mr. S dianggap bukan merupakan ancaman bagi keamanan nasional Negara itu. Mr. S mengatakan dia tidak melihat bahwa sidik jari telah hilang sebelum berangkat untuk perjalanan ke AS itu. Sementara itu, dokter yang menanganinya juga menyebutkan bahwa tidak ditemukan informasi lainnya tentang pasien kemoterapi yg mengeluh sidik jarinya hilang.
Seorang ahli forensik, Edward Richards, yang juga menjabat sebagai direktur pada Program in Law, Science and Public Health di Universitas Louisiana – AS, menjelaskan bahwa "penyakit lainnya, misalnya rashes dan sejenisnya dapat menyebabkan gangguan vesicular pada kulit di jari-jari anda. Itu merupakan gejala dari efek pemberian obat". Sebagai catatan, dia juga menyebutkan, "Secara umum kulit akan berada dalam keadaan normal, kecuali memang terjadi kerusakan yang permanen pada jaringan. Itu masih bisa diperbaiki."
Pemindaian sidik jari dan pemindaian biometrics lainnya menjadi prosedur yang umum dilakukan pada orang-orang yang akan memasuki wilayah AS, misalnya melalui bandara. Prosedur ini diterapkan untuk menghindari terjadinya ada orang yang memiliki pasport dengan mengguna nama lain. Dan teknologi pemindaian terbukti sangat membantu pemberlakuan prosedur ini. Tapi bagaimana jika ada orang-orang yang bernasib seperti Mr. S. Atau bahkan dengan sengaja telah melakukan penggantian sidik jari. Kasus seperti ini akan menjadi problem tersendiri yang dihadapi oleh teknologi pemindaian. Tapi solusinya sudah disediakan. Jika kasus itu terjadi lagi, pemerintah AS akan menyediakan konsultan Worldwide, LLC, yang memiliki para ahli untuk pemeriksaan sidik jari, ahli forensik dan biometric yang biasanya bekerja untuk Departemen Pertahanan AS dan perusahaan Lockheed Martin.
sumber tulisan : cnn.com, scientificamerican.com
Label: IPTEK
Share
| Tweet | Follow @bunyuonline |
BISNIS TIKET PESAWAT ONLINEDirekomendasikan bagi Anda yang ingin memiliki dan mengelola bisnis penjualan tiket pesawat secara online, murah, mudah, cepat, dan aman. untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
artikel terkait :
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Terapi kanker bisa menghilangkan sidik jari |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2009/05/terapi-kanker-bisa-menghilangkan-sidik.html |
