Menggunakan Ozon untuk mengawetkan sayuran dan buah-buahan
Sabtu, 04 Juli 2009
Umumnya kita hanya mengetahui ozon merupakan lapisan atmosfir yang melindungi Bumi dari efek rumah kaca. Tapi ternyata ada kegunaan lain dari ozon yaitu untuk mengawetkan sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan buah-buahan yang sudah dicuci dengan menggunakan air berozon bisa menjadi tetap segar hingga dalam waktu tiga minggu. Ini langkah bagus bagi para petani sayuran dan buah-buahan. Mereka menjadi punya waktu yang lebih banyak lagi untuk memasarkan hasil kebunnya. Tidak lagi terburu-buru seperti sebelumnya karena untuk menghindari sayuran atau buah-buahan yang bisa cepat menjadi busuk.
Terobosan ini berkat usaha para peneliti di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KIM-LIPI). Jika di luar negeri ozon dibuat dengan menggunakan reaktor penghasil gas ozon, maka para peneliti Indonesia ini membuat reaktor penghasil ozon dengan bahan baku air. Unit reaktor penghasil air berozon ini harganya tiga kali lebih murah dibandingkan dengan unit reaktor penghasil gas ozon. Jika reaktor penghasil air berozon ini bisa diproduksi secara massal, tentu akan sangat membantu bagi para petani sayuran dan buah-buahan untuk menjaga kualitas hasil panennya itu hingga sampai ke daerah pemasaran.
Reaktor Pengawet Rasa Semangka
Sehari-hari, Ali Asgar adalah peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Litbang Departemen Pertanian. Tetapi, jika sudah berhadapan dengan petani sayur, ia beralih profesi menjadi ''juru kampanye''. ''Kalau sayur dan buah Bapak-bapak mau lebih awet, tak cepat busuk, sayurannya dicuci dengan air berozon ini,'' katanya kepada sejumlah petani, pekan lalu.
Ali merasa perlu mempromosikan berbagai produk teknologi baru, terutama yang berkaitan dengan sayuran dan buah-buahan. Salah satu teknologi baru itu tak lain rekayasa air yang mengandung ozon (O3). Ali mendengar tentang riset air berozon yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan sejak 2006.
Ketika itu, Ali ingin membuktikan, sejauh mana khasiat air ozon, antara lain, mampu mengawetkan tanaman. Karena itu, ia mengundang seorang peneliti air ozon untuk menunjukkan hasil risetnya. ''Saya menyediakan enam buah tomat untuk dicuci dengan air berozon. Hasilnya, tomat tetap segar sampai 27 hari,'' kata Ali. Padahal, biasanya tomat cuma bisa bertahan hingga sepekan. Ali masih menguji khasiat air ozon itu setidaknya pada tujuh komoditas sayuran lainnya, seperti paprika, brokoli, dan cabe.
Hasilnya tetap sama, sayur-sayuran itu lebih awet dan tahan lama. Menurut Ali, itu terjadi karena air ozon tak hanya menghilangkan kotoran, melainkan juga mencuci buah dari kuman dan bakteri. ''Akibatnya, pembusukan tidak terjadi,'' tutur Ali. Selain itu, menurut pengamatan Ali, sisa-sisa semprotan pestisida yang biasanya melekat pada sayuran berkurang hingga 40%, termasuk logam berat yang menempel bisa hilang hingga 70%. ''Saya sudah membuktikan air berozon ini, jadi berani menyarankannya kepada petani,'' kata Ali.
Apa yang Ali bicarakan itu tak lain hasil inovasi Anto Tri Sugiarto, peneliti di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KIM-LIPI). Menurut Anto, air berozon memang dapat menguraikan sisa pestisida pada sayuran, sekaligus membunuh kuman dan jamur. Karena itu, air ozon juga digunakan di rumah sakit untuk mensterilkan kuman.
''Sayuran yang disemprot dengan air berozon tetap aman dikonsumsi,'' kata Anto. Ozon adalah zat yang sangat aktif dan cepat terurai kembali menjadi oksigen dalam waktu satu jam dan tidak meninggalkan sisa. Tetapi, jangan salah, walaupun aman, air ozon bukan untuk diminum. Anto mewanti-wanti, air ozon dapat berbahaya jika terpapar melebihi baku mutu yang ditetapkan. Jika terhirup, jangan sampai melebihi 0,5 ppm. Jika tertelan, tidak boleh lebih dari 0,02 ppm.
''Ibaratnya, ozon itu dapat menjadi kawan atau lawan, tergantung bagaimana memanfaatkannya,'' ujar Anto. Toh, dalam catatan sejarah, ozon memang lebih banyak menjadi kawan ketimbang lawan. Ilmuwan CF Schonbein menemukan unsur ozon sejak 1840. Namun ozon baru banyak digunakan untuk berbagai keperluan sejak 1990-an. Mulai untuk proses sterilisasi air minum, pengolahan limbah, hingga menguraikan berbagai zat beracun, seperti benzene, atrazine, dan dioxinn. ''Itu berkat kemampuan oksidasinya,'' kata Anto.
Karena berbagai manfaat itulah, ilmuwan berlomba-lomba menciptakan reaktor penghasil ozon. Menurut Anto, ozon sebenarnya terbentuk secara alamiah. Tetapi bisa pula dibuat dengan reaktor, tergantung kebutuhannya. Misalnya reaktor untuk menghasilkan air berozon untuk mencuci sayuran, reaktor gas ozon untuk mengawetkan bahan pangan, dan reaktor es ozon untuk mengawetkan ikan.
Sejauh ini, ada dua cara kerja reaktor-reaktor tadi untuk membuat ozon, yakni metode sengatan listrik (electrical discharge) dan sinar radioaktif. Membuat ozon dengan listrik lebih banyak dilakukan dalam bidang industri. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknologi plasma.
Di dalam reaktor plasma ozon terdapat dua elektroda yang dialiri listrik bertegangan ribuan volt. Selanjutnya oksigen dialirkan ke reaktor sehingga terjadi proses ionisasi. Proses ini kemudian menghasilkan gas ozon. ''Ozon yang terbentuk itu merupakan penerapan teknologi plasma dalam gas,'' kata Anto.
Teknologi reaktor penghasil gas ozon memang lebih banyak berkembang. Namun harga reaktor jenis ini di pasar internasional dapat mencapai Rp 20 juta tiap unit. Karena itu, Anto cenderung menciptakan reaktor ozon dengan ''bahan baku'' air. Selain itu, harganya bisa tiga kali lebih murah dibandingkan dengan reaktor gas ozon.
Namun menciptakan proses plasma di dalam air cukup sulit. Terutama merekayasa agar terjadi lompatan listrik yang optimum, sebagai syarat utama terjadinya proses plasma di dalam air. Awalnya Anto menggunakan pelat logam, masih gagal. Pelat itu kemudian dilubangi. ''Memang terjadi loncatan listrik, tetapi tidak maksimal,'' ujar Anto.
Setelah mencoba menggunakan berbagai medium dan gagal berkali-kali, Anto akhirnya menggunakan tabung kaca (pyrex). Hasilnya, terjadi banyak loncatan elektron. Reaktor versi Anto ini berupa kotak berukuran panjang-lebar-tinggi 40 x 30 x 10 cm. Di dalam reaktor terdapat silinder yang berisi tabung kaca berdiameter 3 cm. Pada tabung kaca itu dipasang dua kutub elektroda. Satu kutub diletakkan di dalam, kutub lainnya dililitkan sepanjang tabung (lihat grafis).
Pada silinder tadi terdapat tiga lubang. Fungsinya, untuk memasukkan oksigen dan air serta saluran keluar untuk air berozon. Setelah air dan oksigen dimasukkan, listrik dihidupkan, sehingga kedua elektroda itu beraksi. ''Terjadilah lompatan muatan elektron seperti petir yang bercabang-cabang sepanjang tabung,'' kata Anto.
Warnanya kebiruan dan menimbulkan bau menyengat. ''Baunya seperti bau semangka yang dibelah. Itulah ozon,'' tutur Anto. Proses ini kemudian menghasilkan air berozon alias hydroxyl radikal (•OH). ''Kemampuan oksidasi dan sterilisasinya dua kali lebih kuat dibandingkan dengan ozon biasa,'' kata Anto.
Keberhasilan itu dapat diraih Anto setelah bergelut dengan teknologi ozon selama lima tahun sejak 1998. ''Metode pembuatan ozon dalam air inilah yang kemudian saya patenkan,'' ujar Anto. Rencana selanjutnya, Anto berharap, air ozon dapat segera diproduksi secara massal agar sayur-mayur petani Indonesia lebih segar dan awet.
gatra.com
Terobosan ini berkat usaha para peneliti di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KIM-LIPI). Jika di luar negeri ozon dibuat dengan menggunakan reaktor penghasil gas ozon, maka para peneliti Indonesia ini membuat reaktor penghasil ozon dengan bahan baku air. Unit reaktor penghasil air berozon ini harganya tiga kali lebih murah dibandingkan dengan unit reaktor penghasil gas ozon. Jika reaktor penghasil air berozon ini bisa diproduksi secara massal, tentu akan sangat membantu bagi para petani sayuran dan buah-buahan untuk menjaga kualitas hasil panennya itu hingga sampai ke daerah pemasaran.
Reaktor Pengawet Rasa Semangka
Sehari-hari, Ali Asgar adalah peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Litbang Departemen Pertanian. Tetapi, jika sudah berhadapan dengan petani sayur, ia beralih profesi menjadi ''juru kampanye''. ''Kalau sayur dan buah Bapak-bapak mau lebih awet, tak cepat busuk, sayurannya dicuci dengan air berozon ini,'' katanya kepada sejumlah petani, pekan lalu.
Ali merasa perlu mempromosikan berbagai produk teknologi baru, terutama yang berkaitan dengan sayuran dan buah-buahan. Salah satu teknologi baru itu tak lain rekayasa air yang mengandung ozon (O3). Ali mendengar tentang riset air berozon yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan sejak 2006.
Ketika itu, Ali ingin membuktikan, sejauh mana khasiat air ozon, antara lain, mampu mengawetkan tanaman. Karena itu, ia mengundang seorang peneliti air ozon untuk menunjukkan hasil risetnya. ''Saya menyediakan enam buah tomat untuk dicuci dengan air berozon. Hasilnya, tomat tetap segar sampai 27 hari,'' kata Ali. Padahal, biasanya tomat cuma bisa bertahan hingga sepekan. Ali masih menguji khasiat air ozon itu setidaknya pada tujuh komoditas sayuran lainnya, seperti paprika, brokoli, dan cabe.
Hasilnya tetap sama, sayur-sayuran itu lebih awet dan tahan lama. Menurut Ali, itu terjadi karena air ozon tak hanya menghilangkan kotoran, melainkan juga mencuci buah dari kuman dan bakteri. ''Akibatnya, pembusukan tidak terjadi,'' tutur Ali. Selain itu, menurut pengamatan Ali, sisa-sisa semprotan pestisida yang biasanya melekat pada sayuran berkurang hingga 40%, termasuk logam berat yang menempel bisa hilang hingga 70%. ''Saya sudah membuktikan air berozon ini, jadi berani menyarankannya kepada petani,'' kata Ali.
Apa yang Ali bicarakan itu tak lain hasil inovasi Anto Tri Sugiarto, peneliti di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KIM-LIPI). Menurut Anto, air berozon memang dapat menguraikan sisa pestisida pada sayuran, sekaligus membunuh kuman dan jamur. Karena itu, air ozon juga digunakan di rumah sakit untuk mensterilkan kuman.
''Sayuran yang disemprot dengan air berozon tetap aman dikonsumsi,'' kata Anto. Ozon adalah zat yang sangat aktif dan cepat terurai kembali menjadi oksigen dalam waktu satu jam dan tidak meninggalkan sisa. Tetapi, jangan salah, walaupun aman, air ozon bukan untuk diminum. Anto mewanti-wanti, air ozon dapat berbahaya jika terpapar melebihi baku mutu yang ditetapkan. Jika terhirup, jangan sampai melebihi 0,5 ppm. Jika tertelan, tidak boleh lebih dari 0,02 ppm.
''Ibaratnya, ozon itu dapat menjadi kawan atau lawan, tergantung bagaimana memanfaatkannya,'' ujar Anto. Toh, dalam catatan sejarah, ozon memang lebih banyak menjadi kawan ketimbang lawan. Ilmuwan CF Schonbein menemukan unsur ozon sejak 1840. Namun ozon baru banyak digunakan untuk berbagai keperluan sejak 1990-an. Mulai untuk proses sterilisasi air minum, pengolahan limbah, hingga menguraikan berbagai zat beracun, seperti benzene, atrazine, dan dioxinn. ''Itu berkat kemampuan oksidasinya,'' kata Anto.
Karena berbagai manfaat itulah, ilmuwan berlomba-lomba menciptakan reaktor penghasil ozon. Menurut Anto, ozon sebenarnya terbentuk secara alamiah. Tetapi bisa pula dibuat dengan reaktor, tergantung kebutuhannya. Misalnya reaktor untuk menghasilkan air berozon untuk mencuci sayuran, reaktor gas ozon untuk mengawetkan bahan pangan, dan reaktor es ozon untuk mengawetkan ikan.
Sejauh ini, ada dua cara kerja reaktor-reaktor tadi untuk membuat ozon, yakni metode sengatan listrik (electrical discharge) dan sinar radioaktif. Membuat ozon dengan listrik lebih banyak dilakukan dalam bidang industri. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknologi plasma.
Di dalam reaktor plasma ozon terdapat dua elektroda yang dialiri listrik bertegangan ribuan volt. Selanjutnya oksigen dialirkan ke reaktor sehingga terjadi proses ionisasi. Proses ini kemudian menghasilkan gas ozon. ''Ozon yang terbentuk itu merupakan penerapan teknologi plasma dalam gas,'' kata Anto.
Teknologi reaktor penghasil gas ozon memang lebih banyak berkembang. Namun harga reaktor jenis ini di pasar internasional dapat mencapai Rp 20 juta tiap unit. Karena itu, Anto cenderung menciptakan reaktor ozon dengan ''bahan baku'' air. Selain itu, harganya bisa tiga kali lebih murah dibandingkan dengan reaktor gas ozon.
Namun menciptakan proses plasma di dalam air cukup sulit. Terutama merekayasa agar terjadi lompatan listrik yang optimum, sebagai syarat utama terjadinya proses plasma di dalam air. Awalnya Anto menggunakan pelat logam, masih gagal. Pelat itu kemudian dilubangi. ''Memang terjadi loncatan listrik, tetapi tidak maksimal,'' ujar Anto.
Setelah mencoba menggunakan berbagai medium dan gagal berkali-kali, Anto akhirnya menggunakan tabung kaca (pyrex). Hasilnya, terjadi banyak loncatan elektron. Reaktor versi Anto ini berupa kotak berukuran panjang-lebar-tinggi 40 x 30 x 10 cm. Di dalam reaktor terdapat silinder yang berisi tabung kaca berdiameter 3 cm. Pada tabung kaca itu dipasang dua kutub elektroda. Satu kutub diletakkan di dalam, kutub lainnya dililitkan sepanjang tabung (lihat grafis).
Pada silinder tadi terdapat tiga lubang. Fungsinya, untuk memasukkan oksigen dan air serta saluran keluar untuk air berozon. Setelah air dan oksigen dimasukkan, listrik dihidupkan, sehingga kedua elektroda itu beraksi. ''Terjadilah lompatan muatan elektron seperti petir yang bercabang-cabang sepanjang tabung,'' kata Anto.
Warnanya kebiruan dan menimbulkan bau menyengat. ''Baunya seperti bau semangka yang dibelah. Itulah ozon,'' tutur Anto. Proses ini kemudian menghasilkan air berozon alias hydroxyl radikal (•OH). ''Kemampuan oksidasi dan sterilisasinya dua kali lebih kuat dibandingkan dengan ozon biasa,'' kata Anto.
Keberhasilan itu dapat diraih Anto setelah bergelut dengan teknologi ozon selama lima tahun sejak 1998. ''Metode pembuatan ozon dalam air inilah yang kemudian saya patenkan,'' ujar Anto. Rencana selanjutnya, Anto berharap, air ozon dapat segera diproduksi secara massal agar sayur-mayur petani Indonesia lebih segar dan awet.
gatra.com
Label: IPTEK
| Share |
|
| Tweet | Follow @bunyuonline |
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Menggunakan Ozon untuk mengawetkan sayuran dan buah-buahan |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2009/07/menggunakan-ozon-untuk-mengawetkan.html |
