Benarkah Ardipithecus Ramidus cikal bakal leluhur manusia?
Jumat, 02 Oktober 2009
Fosil hominid ini awalnya ditempatkan dalam genus Australopithecus, dengan julukan ramidus (dari kata Afar "ramid", yang berarti "root"). Tim White dan rekan-rekannya kemudian menggolongkannya dalam keluarga para hominid genus baru, setelah ditemukan ketidak miripan antara ramidus dan semua Australopithecus lain yang pernah dikenal. Mereka mengusulkan agar fosil ini dimasukkan dalam genus Ardipithecus (dari "ardi", yang berarti "tanah" atau "lantai" dalam bahasa Afar)pada tahun 1995.Fosil ramidus diperkirakan berumur 4,4 juta tahun dan telah ditemukan pada akhir 1992 dengan jumlah 17 fosil. Penemuan fosil tersebut dipublikasikan pada tahun 1994. Spesimen ini diambil dari sebuah tempat yang terletak di bagian barat Sungai Awash di daerah Aramis – Ethiopia. Setelah dilakukan reka ulang dan penelitian selama kurang lebih 15 tahun, muncul dugaan di kalangan para ahli arkeologi bahwa Ardipithecus Ramidus adalah cikal bakal leluhur manusia. Benarkah demikian? Ini masih menjadi perdebatan diantara para ahli. Mengingat jarak waktu 4,4 juta tahun adalah terlalu singkat untuk sebuah proses evolusi Ardipithecus Ramidus menjadi manusia modern.
=============================
Fosil ungkap asal manusia
Para peneliti berhasil mereka ulang mahluk mirip manusia yang kemungkinan merupakan leluhur langsung spesies manusia.
Hasil penelitian pada binatang berusia 4,4 juta tahun yang disebut Ardipithecus ramidus ini dilaporkan dalam jurnal Science. Bahkan jika ternyata binatang ini bukan merupakan leluhur langsung manusia, hasil penelitian itu memberi perkiraan baru mengenai bagaimana kita berevolusi dari leluhur manusia yang sama dengan simpanse.
Fosil Ardipithecus ramidus pertama kali ditemukan di Ethiopia tahun 1992, namun diperlukan waktu 17 tahun untuk menemukan pentingnya mahluk ini. Spesimen terpenting adalah bagian dari tengkorak berjenis kelamin perempuan yang diberi nama "Ardi".
Tim peneliti internasional ini berhasil menemukan tulang-tulang penting, antara lain tengkorang yang lengkap dengan gigi, tangan, panggul, kaki dan telapak kaki. Namun para peneliti memiliki bagian lain yang kemungkinan berasal dari setidaknya 36 individu, termasuk kaum muda, pria dan wanita.
Salah satu ketua peneliti proyek ini, Profesor Tim White dari Universitas California Berkeley, mengatakan penyelidikan itu berjalan sangat sulit. "Kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membersihkan tulang belulang itu di Museum Nasional Ethiopia dan kemudian melakukan restorasi tengkorak agar kembali ke dimensi dan bentuk asal. Kemudian kami mempelajari dan membandingkan dengan fosil lain yang diketahui berasal dari Afrika dan wilayah lain, juga dengan fosil yang berasal dari jaman modern," ujarnya seperti dikutip jurnal Science.
"Ini bukan fosil biasa. Ini bukan fosil simpanese. Bukan manusia juga. Fosil itu memperlihatkan bagaimana bentuk kita, manusia, dulu."
Hidup di pohon
Fosil-fosil itu ditemukan di wilayah penelitian Middle Awash di Afar Rift, sekitar 230 km sebelah barat laut ibukota Ethiopia Addis Ababa.
Sebagian ciri-ciri tengkorak binatang ini disebutkan serupa dengan bentuk yang terdapat pada kera jaman purba; yang lain memiliki tanda-tanda seperti pada spesies yang lebih mirip manusia.
Para ilmuwan mengatakan Ardi yang memiliki tinggi 1,2m ini memiliki kemampuan naik pohon, tetapi berjalan dengan dua kaki. Namun dia tidak memiliki kaki yang lurus seperti manusia dan ini menandakan dia tidak bisa lari atau berjalan untuk jarak jauh. "Dia memiliki jari kaki yang saling berlawanan dan memiliki panggul yang membuatnya mampu bergerak di dahan pohon," ujar anggota tim peneliti Profesor Owen Lovejoy dari Universitas Kent State, Ohio. "Jadi sebagian waktunya dihabiskan di pohon; dia kemungkinan tinggal di pepohonan dan terkadang makan di atas pohon. Tetapi ketika berada di darat dia berjalan dengan tegak, mirip dengan cara manusia berjalan.
Tim ini mengatakan fakta bahwa Ardi tinggal di wilayah penuh pepohonan sekitar 4,4 juta tahun merupakan satu tantangan.
Sebelumnya diperkirakan bahwa evolusi manusia awal didorong, jika tidak sebagai salah satu faktor, oleh hilangnya pepohonan - sehingga leluhur kita dipaksa berjalan di darat.
"Mahluk-mahluk ini tinggal dan meninggal di habitat penuh pepohonan, bukan padang rumput yang terbuka," ujar Profesor White.
Karena usianya yang sangat tua, Ardipithecus disebut membawa dunia ilmiah semakin dekat dalam menemukan leluhur manusia dan simpanse yang belum terungkap.
Dan karena banyak tanda-tanda Ardipithecus tidak terlihat pada kera Afrika jaman modern, diperkirakan bahwa leluhur manusia dan kera kemungkinan hidup jauh lebih lama dari yang diperkirakan semula - mungkin tujuh atau sembilan juta tahun lalu. Perbandingan dengan anatomi kera dan gorila modern juga menggaris bawahi bahwa sebagian kera Afrika itu pun telah berevolusi sejak berpisah dengan garis yang pada akhirnya membentuk manusia modern.
Evolusi cepat
Saat ditanya apakah Ardipithecus ramidus merupakan leluhur langsung manusia atau bukan, tim ini mengatakan masih diperlukan fosil dari berbagai tempat yang berasal dari periode yang berbeda untuk menjawab pertanyaan itu. "Kita masih memerlukan untuk menemukan lebih banyak fosil dari periode 3-5 juta tahun lalu untuk bisa menjawab pertanyaan itu dengan yakin di masa depan," ujar para peneliti dalam pernyataan yang diterbitkan bersamaan dengan karya tulis di jurnal itu. "Tetapi jika Ardipithecus ramidus bukan spesies yang merupakan leluhur langsung manusia, dia hampir pasti memiliki hubungan dekat dengan itu, dan memiliki penampilan dan adaptasi yang sama.".
Pakar independen bidang ilmu ini kaget dengan ke-primitifan Ardipithecus dibanding Australopithecines, kelompok spesies hominid (mirip manusia) yang lain yang berasal dari Afrika yang hidup di jaman yang lebih dekat dengan manusia. Khususnya satu spesies, Australopithecus afarensis, fosil "Lucy" yang terkenal dan ditemukan tahun 1974, memiliki hubungan sangat kuat dengan cerita evolusi manusia karena kemampuan berjalan yang sangat canggih.
Bagi Ardipithecus ramidus untuk juga menjadi leluhur langsung manusia diperlukan perubahan secara evolusi yang cepat, ujar Profesor Chris Stringer dari musium Natural History London.
sumber : archaeologyinfo.com, BBC
Fosil ungkap asal manusia
Para peneliti berhasil mereka ulang mahluk mirip manusia yang kemungkinan merupakan leluhur langsung spesies manusia.
Hasil penelitian pada binatang berusia 4,4 juta tahun yang disebut Ardipithecus ramidus ini dilaporkan dalam jurnal Science. Bahkan jika ternyata binatang ini bukan merupakan leluhur langsung manusia, hasil penelitian itu memberi perkiraan baru mengenai bagaimana kita berevolusi dari leluhur manusia yang sama dengan simpanse.
Fosil Ardipithecus ramidus pertama kali ditemukan di Ethiopia tahun 1992, namun diperlukan waktu 17 tahun untuk menemukan pentingnya mahluk ini. Spesimen terpenting adalah bagian dari tengkorak berjenis kelamin perempuan yang diberi nama "Ardi".
Tim peneliti internasional ini berhasil menemukan tulang-tulang penting, antara lain tengkorang yang lengkap dengan gigi, tangan, panggul, kaki dan telapak kaki. Namun para peneliti memiliki bagian lain yang kemungkinan berasal dari setidaknya 36 individu, termasuk kaum muda, pria dan wanita.
Salah satu ketua peneliti proyek ini, Profesor Tim White dari Universitas California Berkeley, mengatakan penyelidikan itu berjalan sangat sulit. "Kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membersihkan tulang belulang itu di Museum Nasional Ethiopia dan kemudian melakukan restorasi tengkorak agar kembali ke dimensi dan bentuk asal. Kemudian kami mempelajari dan membandingkan dengan fosil lain yang diketahui berasal dari Afrika dan wilayah lain, juga dengan fosil yang berasal dari jaman modern," ujarnya seperti dikutip jurnal Science.
"Ini bukan fosil biasa. Ini bukan fosil simpanese. Bukan manusia juga. Fosil itu memperlihatkan bagaimana bentuk kita, manusia, dulu."
Hidup di pohon
Fosil-fosil itu ditemukan di wilayah penelitian Middle Awash di Afar Rift, sekitar 230 km sebelah barat laut ibukota Ethiopia Addis Ababa.
Sebagian ciri-ciri tengkorak binatang ini disebutkan serupa dengan bentuk yang terdapat pada kera jaman purba; yang lain memiliki tanda-tanda seperti pada spesies yang lebih mirip manusia.
Para ilmuwan mengatakan Ardi yang memiliki tinggi 1,2m ini memiliki kemampuan naik pohon, tetapi berjalan dengan dua kaki. Namun dia tidak memiliki kaki yang lurus seperti manusia dan ini menandakan dia tidak bisa lari atau berjalan untuk jarak jauh. "Dia memiliki jari kaki yang saling berlawanan dan memiliki panggul yang membuatnya mampu bergerak di dahan pohon," ujar anggota tim peneliti Profesor Owen Lovejoy dari Universitas Kent State, Ohio. "Jadi sebagian waktunya dihabiskan di pohon; dia kemungkinan tinggal di pepohonan dan terkadang makan di atas pohon. Tetapi ketika berada di darat dia berjalan dengan tegak, mirip dengan cara manusia berjalan.
Tim ini mengatakan fakta bahwa Ardi tinggal di wilayah penuh pepohonan sekitar 4,4 juta tahun merupakan satu tantangan.
Sebelumnya diperkirakan bahwa evolusi manusia awal didorong, jika tidak sebagai salah satu faktor, oleh hilangnya pepohonan - sehingga leluhur kita dipaksa berjalan di darat.
"Mahluk-mahluk ini tinggal dan meninggal di habitat penuh pepohonan, bukan padang rumput yang terbuka," ujar Profesor White.
Karena usianya yang sangat tua, Ardipithecus disebut membawa dunia ilmiah semakin dekat dalam menemukan leluhur manusia dan simpanse yang belum terungkap.
Dan karena banyak tanda-tanda Ardipithecus tidak terlihat pada kera Afrika jaman modern, diperkirakan bahwa leluhur manusia dan kera kemungkinan hidup jauh lebih lama dari yang diperkirakan semula - mungkin tujuh atau sembilan juta tahun lalu. Perbandingan dengan anatomi kera dan gorila modern juga menggaris bawahi bahwa sebagian kera Afrika itu pun telah berevolusi sejak berpisah dengan garis yang pada akhirnya membentuk manusia modern.
Evolusi cepat
Saat ditanya apakah Ardipithecus ramidus merupakan leluhur langsung manusia atau bukan, tim ini mengatakan masih diperlukan fosil dari berbagai tempat yang berasal dari periode yang berbeda untuk menjawab pertanyaan itu. "Kita masih memerlukan untuk menemukan lebih banyak fosil dari periode 3-5 juta tahun lalu untuk bisa menjawab pertanyaan itu dengan yakin di masa depan," ujar para peneliti dalam pernyataan yang diterbitkan bersamaan dengan karya tulis di jurnal itu. "Tetapi jika Ardipithecus ramidus bukan spesies yang merupakan leluhur langsung manusia, dia hampir pasti memiliki hubungan dekat dengan itu, dan memiliki penampilan dan adaptasi yang sama.".
Pakar independen bidang ilmu ini kaget dengan ke-primitifan Ardipithecus dibanding Australopithecines, kelompok spesies hominid (mirip manusia) yang lain yang berasal dari Afrika yang hidup di jaman yang lebih dekat dengan manusia. Khususnya satu spesies, Australopithecus afarensis, fosil "Lucy" yang terkenal dan ditemukan tahun 1974, memiliki hubungan sangat kuat dengan cerita evolusi manusia karena kemampuan berjalan yang sangat canggih.
Bagi Ardipithecus ramidus untuk juga menjadi leluhur langsung manusia diperlukan perubahan secara evolusi yang cepat, ujar Profesor Chris Stringer dari musium Natural History London.
sumber : archaeologyinfo.com, BBC
Label: IPTEK
| Share |
|
| Tweet | Follow @bunyuonline |
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Benarkah Ardipithecus Ramidus cikal bakal leluhur manusia? |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2009/10/benarkah-ardipithecus-ramidus-cikal.html |
