Tidur dan permasalahannya | BUNYU ONLINE

Tidur dan permasalahannya. BUNYU ONLINE: Tidur dan permasalahannya, baca di www.bunyu-online.com


Tidur dan permasalahannya

Kamis, 08 Oktober 2009
Kalimantan Timur, liburan, perjalanan, wisata, pelayaran, perkapalan, kapal pesiar, kapal mewah, paket perjalanan, penginapan, jaringan hotel, kamar hotel nyaman Kalimantan Timur, East Borneo, vacation, travel, tour, cruise, ship, yacht, luxury boats, travel packages, lodging, hotel chains, comfortable hotel room


Tidur? Apa susahnya? Tinggal merem, beres. Tunggu dulu, tidur yang baik dan benar kadang tak semudah itu karena mungkin ada gangguan. Bisa ringan, bisa pula berat. Obat tidur bukan satu-satunya solusi.

Bagi awam, gangguan tidur sering hanya dikenal sebagai insomnia alias sulit tidur atau sulit untuk tetap tertidur. Bagaimana dengan Titi (30), yang selama dua tahun terakhir baru bisa tidur menjelang subuh? Juga Rudy (19) yang sempat diduga mencandu narkotika karena selalu tertidur bahkan ketika ujian? Lantas Nia (20) yang giginya sampai perlu diratakan karena berkerinyut terus saat tidur dan dikhawatirkan melukai lidahnya? Atau Susi yang memilih tak sekamar dengan suaminya lantaran ngorok-nya sampai menggetarkan kamar tidur?

Ya, mereka juga termasuk penderita gangguan tidur. Meski kelihatan sepele, gangguan ini sebenarnya tak boleh dianggap enteng.

Amerika Serikat, misalnya, yang sekitar 40 juta penduduknya mengalami gangguan tidur, mencatat biaya medis sekitar AS $ 16 miliar dan kerugian tak kurang dari AS $ 50 miliar. Ini akibat tak langsung dari gangguan tidur, seperti kecelakaan lalu-lintas dan di tempat kerja, emosi tak terkendali yang merusak, masuk rumah sakit, bahkan meninggal.

Biarpun akibatnya belum segawat itu, Indonesia juga memiliki catatan tentang penderita gangguan tidur. Walau, seperti biasa, belum terdata dengan baik.

"Ada sekitar 300 pasien yang datang sejak klinik ini dibuka pertengahan 2001 lalu," tutur dr. Janto G. Lingga, Sp.P. dari Klinik Gangguan Tidur, Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Namun, "Hanya sekitar 100 pasien yang perlu uji laboratorium tidur untuk mengenali pola tidur, mencari penyebab, dan cara mengatasinya," tambahnya. Pasien kebanyakan dari kalangan menengah atas, berusia di atas 40 tahun. Sementara pemicunya berkisar masalah kejiwaan, rumah tangga, stres di tempat kerja, atau gabungannya.

Beginilah tidur

Sebenarnya, tidur terjadi karena adanya hypnotoxin yang menghambat kegiatan otak, berkurangnya aliran darah ke otak, atau pengaruh lingkungan.

Penemuan tidur REM (Rapid Eye Movement) oleh Eugene Aserinsky dan Nathaniel Kleitman (1953) dan circadian rhythm (waktu tidur-bangun yang tak sesuai lebih dari 24 jam) oleh Kleitman (1963) menandai dimulainya era penelitian tidur secara ilmiah hingga terbentuk Pusat Penelitian Tidur yang pertama di AS pada 1972.

Walau fungsi tidur sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya, telah bisa disimpulkan bahwa tidur merupakan proses aktif, bukan sekadar istirahat otak dan kegiatan ragawi.

"Sampai 1960 tidur dimaknai dengan prinsip homeostatik," kata Janto Lingga, yang sejak 2002 jadi konsultan "Touch the Car", acara adu ketahanan beberapa hari tak tidur berhadiah mobil. Selama tidur, energi atau unsur otak dan tubuh yang selama bangun terpakai, diduga akan dipulihkan. Sedangkan zat racun yang terkumpul selama bangun akan dinetralkan atau dibuang sewaktu tidur.

Tidur sebetulnya punya irama amat teratur, karena orang cenderung akan tidur dan bangun pada waktu yang sama. Namun, irama itu terkadang terganggu oleh banyak faktor. Tidur normal akan terdiri atas tidur REM dan non-REM. Ada empat tahap non-REM sleep, yaitu tidur dangkal (tahap I), tidur sebenarnya (II), tidur dalam (III, IV), dan disusul REM sleep alias tidur mimpi yang berlangsung tiap 90 - 120 menit. Lamanya tidur yang kita perlukan rata-rata delapan jam per hari.

Dari segi jumlah, kekurangan dan kelebihan tidur sama tidak baiknya. Kurang dari 1,5 jam per hari dapat mengurangi 33% kewaspadaan di siang hari. Kurang tidur yang berlangsung lama juga menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, meningkatkan kadar gula darah, dan menurunkan kadar kortisol dalam darah yang bertanggung jawab atas munculnya stres.

Tidur kurang dari empat jam atau lebih dari sembilan jam akan meningkatkan angka kematian dibandingkan dengan yang rata-rata delapan jam sehari. Sebaliknya, kalau kelebihan juga mengakibatkan gangguan, seperti rasa kantuk berlebihan di siang hari.

Insomnia dan BEARS

Secara garis besar, gangguan tidur muncul dalam tiga bentuk.

Insomnia, sulit jatuh tidur dan mempertahankannya.
Hiperinsomnia, tidur terlalu banyak, selalu mengantuk di siang hari, atau kadang tidur dan mengantuk terus siang-malam.
Parasomnia, gangguan yang timbul selama atau muncul di perbatasan tidur dan bangun, macam berjalan saat tidur, mengigau, dan gigi berkerinyut.

Insomnia menjadi jenis terumum yang terjadi pada semua usia dan bisa bersifat sementara, jangka pendek, atau menahun. Pada insomnia sementara, kesulitan tidur terjadi selama beberapa hari sampai kurang dari empat minggu. Penyebabnya biasanya stres, karena anak menghadapi ujian, akan membuat keputusan bisnis penting, atau cekcok keluarga.

Insomnia jangka pendek terjadi bila gangguan berlangsung 4 minggu - 6 bulan, karena stres berkepanjangan di rumah, di tempat kerja, atau gangguan kesehatan. Insomnia sementara dan jangka pendek biasa mereda jika penyebabnya teratasi. Yang perlu diwaspadai adalah insomnia menahun - tidur buruk tiap malam selama lebih dari enam bulan.

Langkah pertama menangani penderita gangguan tidur adalah memperoleh Riwayat Tidurnya. "Lewat wawancara medis dapat diketahui keluhan tidurnya dan keadaan medis lain yang berkaitan," kata Janto Lingga.

Riwayat Tidur diperoleh dengan memperhatikan BEARS, yakni:

B (bed time), E (excessive day-time sleepiness), A (awakenings), R (regularity and duration of sleep), S (snoring). Informasi soal B diperlukan untuk menguraikan apa yang terjadi pada periode sesaat sebelum tidur - berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur, apa yang mengganggu hingga sulit tidur, dan berapa lama gangguan itu berlangsung.

E untuk mengetahui beratnya rasa kantuk di siang hari - apakah ingin tidur ketika tak diinginkan, misalnya saat membaca, menonton TV, bercakap-cakap, atau sedang berkendara. A untuk melihat ciri-ciri saat terbangun dari tidur malam atau pagi hari - apa penyebab terbangun (nyeri, sesak napas), seberapa sering, sudah berapa lama, mengapa sulit tertidur lagi, dan perasaan yang didapat pagi hari. R untuk menggambarkan kebiasaan tidur - jam berapa mulai tidur dan bangun pagi harinya, apakah merasa cukup tidur, apakah kita pekerja shift atau senang clubbing.

Lalu S untuk menyingkap adanya Obstructive Sleep Apnea (OSA), kelainan yang ditandai penyumbatan saluran napas yang berulang selagi tidur, biasanya disertai dengkuran dan turunnya aliran oksigen dalam darah. Untuk hal ini tentunya hanya teman tidur yang bisa mengetahui apakah seseorang mendengkur atau berhenti bernapas ketika tidur. Penderita hanya merasakan akibatnya di pagi hari - biasanya berupa keluhan tidak segar, berkeringat, mudah lupa dan marah, konsentrasi kurang, mengantuk berlebihan siang hari, bahkan impotensi.

Jadi, dari BEARS dapat diketahui penyebabnya, apakah dari faktor psikologis, gaya hidup, lingkungan, atau fisik. Ini akan menentukan langkah penanganannya, apakah cukup dengan memperbaiki cara pikir, kebiasaan, atau perlu dilakukan tindakan medis lewat pemberian obat, alat tertentu atau melakukan sleep laboratory.

Secara psikologis, jika sedang mengalami stres yang berakibat insomnia, seseorang cenderung sekuat tenaga mencoba tidur, yang biasa disebut learned atau psychophysiological insomnia. Celakanya, upaya itu justru membuat kita terus terjaga dengan perasaan cemas. Beberapa orang bisa tidur cepat justru ketika meninggalkan tempat tidur lalu membaca surat kabar di sofa atau menonton TV. Bila ini berlangsung selama sebulan saja, siklus tidur bisa memburuk dan meningkatkan kecemasan.

Gangguan ini bisa diatasi dengan memperbaiki kebiasaan tidur dan mengurangi kekhawatiran yang tak perlu. Cara praktisnya dengan Sleep Restriction (SRT) yang dikembangkan Arthur Spielman (1987), yaitu dengan mencatat rata-rata waktu tidur selama dua minggu. Waktu di tempat tidurnya ditambah maksimal 30 menit tiap minggu. Jika sudah ada peningkatan jumlah waktu tidur, waktu inilah yang dipakai sebagai patokan lamanya menikmati peraduan.

Ada juga Cognitive Behavioral Therapy untuk menghilangkan kesalahpahaman bahwa tidur harus delapan jam tiap malam. Terapi ini untuk mengatasi perasaan mendapatkan mutu tidur yang kurang bila seseorang hanya tidur selama 6,5 jam.

Gaya hidup

Gangguan tidur pun dipengaruhi gaya hidup. Alkohol, kopi, rokok, obat penurun panas dan asma pun dapat memperlambat waktu tertidur, mencetuskan bangun tidur larut malam, atau tidur terputus-putus (sering terbangun).

Kerja shift dan kerap clubbing pun berpotensi mengganggu program tubuh untuk rutin terjaga atau terlelap pada waktu tertentu. Orang yang bersifat tertutup atau pendiam pun bisa mengalami insomnia karena memendam perasaan dan masalah.

Lingkungan tentu pula berpengaruh, meskipun itu tergantung pada kebiasaan. Ada yang sulit tidur dalam suasana hiruk-pikuk lalu-lintas, bunyi detak jam, atau gelapnya kamar. Namun, bagi penderita insomnia, disarankan untuk mematikan lampu, karena keadaan gelap merangsang otak memproduksi melatonin yang membimbing mata terpejam.

Trauma dan stres terus-menerus merupakan faktor kejiwaan insomnia. "Biasanya sudah kronis, bahkan ada yang menderita selama 20 tahun terakhir, dan umumnya sudah tergantung pada obat-obat tertentu untuk bisa tidur," papar Janto Lingga. Untuk kasus macam ini, "Tindakan pertama adalah menurunkan dosisnya pelan-pelan, karena jika langsung diputus, biasanya gelisah. Lalu menyembuhkan depresinya." Sayangnya, banyak yang tak sabar menjalani dan tak meneruskan. Padahal, bila sabar dan mematuhi, keadaannya akan membaik dalam dua bulan.

Kadang ada yang tak diketahui sebabnya secara pasti seperti narcolepsy, mengantuk terus. Dengan antidepresan dan stimulan, penderita bisa sembuh total dalam sebulan. Tak perlu berobat lagi.

Secara fisik, gangguan radang sendi, sakit kepala, prostat, asma, nyeri lambung dapat memperburuk insomnia. Bila penyakit tadi terobati, insomnia pun mereda. Yang harus benar-benar diperhatikan adalah penderita OSA, karena bisa mengakibatkan stroke, jantung koroner, dan darah tinggi. Hal itu biasa dialami orang dengan garis tengah leher yang besar, rahang bawah tertarik ke dalam, dan kelebihan berat badan.

Penderita ini disarankan menjalani Sleep Laboratory dengan alat polysomnography yang akan mengukur kegiatan selama tidur, yaitu gelombang otak, tegangan otot, pergerakan bola mata dan tungkai, aliran pernapasan, denyut jantung, dan kadar oksigen dalam darah. Hasilnya berguna untuk diagnosis cara pengobatan.

Ada yang cukup diatasi dengan mengubah posisi tidur, yaitu tidur miring atau malah tengkurap yang akan menghilangkan dengkur. Ada pula yang harus diatasi dengan Positive Airway Pressure (CPAP), semacam masker dan pengukur yang mudah digunakan sendiri. Kalau napas tiba-tiba berhenti, CPAP akan langsung memberi tekanan yang mendorong ok-sigen masuk.

Bagaimana kalau gigi berkerinyut?

"Cukup dengan oral appliance, semacam karet agar lidah tak tergigit," ungkap dr. Janto Lingga.

Jadi, supaya tidur memberi manfaat sesuai yang kita inginkan, segeralah memeriksakan diri bila ada yang terasa tak beres. Dengan begitu, penanganannya menjadi lebih mudah. Kepada orang-orang yang kita cintai, kita pun bisa kembali memberi salam, "Selamat tidur, sayang..."

Intisari

Label:

Share   ikutiBUNYU ONLINE
 

Wallpaper foto kapal laut :


Judul Artikel:Tidur dan permasalahannya
Alamat URL:http://www.bunyu-online.com/2009/10/tidur-dan-permasalahannya.html