Koperasi Serba Usaha (KSU) dengan keanggotaan online dan modal kepenyertaan yang murah serta potensi Jasa Mitra dan SHU bulanan hingga jutaan rupiah setiap bulan untuk menjadi penghasilan rutin para anggota. untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.
Merayakan Animasi di Blank Spot Area
Oleh : Arif Koes Hernawan
Sejenak Muhammad Yusuf melupakan Naruto, film animasi kesukaannya. Murid SMA Negeri 2 Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu menggambar tentang kisah ninja Jepang tersebut di gardu ronda, pohon, dan sawah. ''Ini sebagai latar belakang cerita tentang kemeriahan Lebaran di Grabag,'' katanya.
Kawan-kawan Yusuf juga tekun menggambar berbagai karakter. Gambar-gambar itu dipotong-potong, lantas disusun lagi dan posisinya diubah sedikit demi sedikit di bawah jepretan kamera. ''Saya belum pernah membuat animasi, hanya suka nggambar. Ikut workshop ini menambah pengetahuan saya,'' tutur Yusuf.
Hasilnya berupa klip video animasi sepanjang empat menit. Dengan teknik cut out-kolase dan perekaman secara still photo itulah, Yusuf mengikuti workshop pembuatan film animasi sederhana selama tiga hari. Kegiatan ini menjadi bagian dari Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) 2009, yang berlangsung di Grabag, Magelang, 27-30 Oktober lalu.
Selain di kota kecamatan, tim FFAI juga memutar film bagi warga pelosok desa. ''Mereka tidak pernah menonton film animasi seperti ini. Malah ada yang belum pernah melihat TV. Suasananya mirip layar tancap,'' kata Gatot Prakosa, Penanggung Jawab FFAI.
Grabag terletak sekitar 30 kilometer arah timur laut dari pusat kota Magelang. Kawasan pedesaan ini berada pada ketinggian 680 meter di atas permukaan laut, sehingga iklimnya sejuk. Dikelilingi gunung-gunung, banyak areanya yang merupakan blank spot. Cocok untuk daerah pertanian dan tak sedikit warganya yang jadi buruh tani.
Karena siaran televisi terbatas, pada 2004 warga mendirikan TV komunitas, Grabag TV. Pendirinya, Harmanto, pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Adapun kru Grabag TV adalah warga setempat dari berbagai latar belakang profesi. Mulai pengemudi truk, guru, penyuluh pertanian, hingga anak-anak muda.
Keberadaan Grabag TV itu menjadi salah satu alasan FFAI digelar di Grabag. Selama festival berlangsung, film animasi pendidikan diputar di TV itu. ''Grabag bisa menjadi embrio film-film animasi,'' kata Gatot Prakosa.
Festival ini juga digelar dalam rangka Hari Film Animasi Internasional, yang jatuh pada 28 Oktober. Resminya, FFAI tergelar atas kerja sama Fakultas Film dan Televisi IKJ, ASIFA (l'Association Internationale du Film d'Animation, International Animation Association) Indonesia, Yayasan Seni Visual Indonesia, dengan Grabag TV.
Sebagai sebuah festival, tentu ada rangkaian pemutaran film animasi. Sebagai pembuka, diputar The Tale of Desperaux buatan Debra Zane (Amerika Serikat) dan sejumlah karya Maureen Shelwood. Tahun ini, fokusnya adalah pemutaran flm animasi Asia. Maka, tampillah kisah Upin-Ipin dalam Geng Pengembaraan Bermula dari Malaysia dan animasi dari Iran, nominator Piala Oscar 2007, Persepolis.
Juga ada Khan Kluay (Thailand), Tree Robo (Korea), serta film animasi dari Singapura, Filipina, Cina, dan Jepang. Sebagai retrospeksi, ditayangkan karya-karya animator Alexander Petrov (Rusia) dan Raimun Krume (Jerman). Selain itu, digelar pula diskusi dan sarasehan tentang film animasi.
Gatot yang tercatat sebagai anggota International Board ASIFA dan wakil untuk Asia menjelaskan, panitia FFAI kali ini menerima tidak kurang dari 600 film animasi lokal dan 600 film dari 28 negara dengan durasi 10 detik hingga dua jam. Sedangkan yang diputar selama festival berlangsung hanya 200 karya.
Tidak ketinggalan program kompetisi film animasi pendek --berdurasi 30 detik sampai satu menit. Untuk yang satu ini, dewan juri menyeleksi 15 dari 60 film untuk diputar di depan warga desa. ''Warga desa akan menusuk gambar film favoritnya,'' kata Gatot Prakosa, yang juga Dekan Fakultas Film dan Televisi IKJ. Pemenang bakal memperoleh sertifikat dan karyanya diikutkan dalam festival internasional.
Sederhananya, sebagian besar film yang diputar dalam festival ini --juga yang ikut kompetisi-- memuat tema edukasi dan kampanye. Misalnya tentang ajakan mengelola sampah dan peduli lingkungan sampai peringatan ancaman global warming. Karena itu pula, acara ini lebih banyak ditujukan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.
Panitia FFAI yang jumlahnya hanya 12 orang menggandeng Pemerintah Kecamatan Grabag dan sekolah-sekolah setempat. Peserta workshop, misalnya, adalah wakil dari sejumlah SMA dan kampus dari Magelang, Yogyakarta, hingga Kendal. ''Mereka sama sekali tidak punya dasar (pembuatan) animasi,'' kata Gatot, sembari melanjutkan bahwa upaya ASIFA masuk ke jalur pendidikan dimulai empat tahun silam, dengan mengimbuhkan kurikulum jurusan animasi sebagai materi belajar di SMK.
Ajang festival ini diyakini akan melahirkan individu-individu muda yang berpotensi di bidang animasi. FFAI bersama ASIFA memang menjadikan individu sebagai fokus. Alasannya, kata Gatot, pada diri individuallah pangkal muncul dan berkembangnya kreativitas serta keliaran seni animasi.
Dengan begitu, film animasi tidak melulu berorientasi pada ranah komersial. ''Seni (art)-nya kuat dulu, baru dikomersialkan. Tidak bisa dibalik,'' kata Gatot pula. Ihwal komersialisasi inilah, menurut dia, yang membuat banyak animator Tanah Air terjebak pada industri animasi.
Mereka sekadar menerima order dari perusahaan animasi luar negeri. Setelah kelar, hasil gambar pun dikirim kepada pemesan. ''Cuma jadi tukang gambar. Istilahnya, tukang obras animasi,'' ujar Gatot. Implikasinya, Indonesia selalu tertinggal di sektor animasi.
Padahal, geliat film animasi lokal terus meningkat. Film-film animasi yang diterima panitia untuk kompetisi, misalnya, telah menunjukkan keberagaman. Berdasarkan teknologinya, animasi dibuat dari software paling sederhana sampai yang tercanggih. ''Ada yang copy-paste sampai yang dari ilmu bajakan,'' Gatot menambahkan.
Dalam festival ini, juga tidak sedikit animator lokal yang terpengaruh oleh tren animasi. Misalnya, begitu saja mengunduh teknik film animasi tiga dimensi yang tengah booming tanpa mempertimbangkan eksplorasi kreativitas dan temanya. Tidak sedikit yang melewatkan potensi budaya lokal sebagai material cerita atau penokohan dalam karya animasi anak negeri.
''Penggunaan bahasa lokal atau kebudayaan daerah, seperti relief candi dan wayang, dapat menjadi basis struktur cerita. Dengan begitu, film animasi juga cepat nyambung dengan masyarakat,'' papar Gatot. Masih banyak "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan untuk membenahi kualitas karya-karya animasi Tanah Air.
Agenda penting yang harus dijaga festival ini dari tahun ke tahun adalah menjaga konsistensi para animator untuk terus berkarya. Hasilnya mulai terlihat. Dari ajang FFAI ini, muncul sejumlah daerah yang punya kesungguhan dalam menggarap film animasi, misalnya Wonogiri (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), dan Papua.
Dengan kualitas yang beragam, para animator yang berasal dari daerah-daerah itu tak cuma mengirim satu karya. Dari Wonogiri, misalnya, ada lima film. Dari Batu malah sampai 12 karya. "Konsistensi ini penting untuk melihat kualitas perkembangan karya," Gatot menegaskan.
sumber : gatra.com
Layanan online booking tiket pesawat terbang dan peluang usaha bisnis agen penjualan tiket pesawat terbang secara online, murah, mudah, dan cepat.
KOPERASI ONLINE KSU-NUARI
Koperasi Serba Usaha (KSU) dengan keanggotaan online dan modal kepenyertaan yang murah dengan potensi Jasa Mitra dan SHU bulanan hingga jutaan rupiah setiap bulan untuk menjadi penghasilan rutin bagi anggota.
LAYANAN ISI ULANG PULSA ELEKTRONIK PULSAGRAM
Layanan isi ulang pulsa elektronik untuk pengisian pulsa pada ponsel milik Anda dan keluarga. Proses isi ulang pulsa yang cepat dan harga pulsa yang murah sehingga PULSAGRAM juga bisa diandalkan untuk berbisnis penjualan pulsa elektronik.


