Homo floresiensis vs teori microcephaly | BUNYU ONLINE

Homo floresiensis vs teori microcephaly. BUNYU ONLINE: Homo floresiensis vs teori microcephaly, baca di www.bunyu-online.com


Kalimantan Timur, liburan, perjalanan, wisata, pelayaran, perkapalan, kapal pesiar, kapal mewah, paket perjalanan, penginapan, jaringan hotel, kamar hotel nyaman Kalimantan Timur, East Borneo, vacation, travel, tour, cruise, ship, yacht, luxury boats, travel packages, lodging, hotel chains, comfortable hotel room


Homo floresiensis vs teori microcephalyPara peneliti dari Stony Brook University Medical Center di New York telah menegaskan bahwa Homo floresiensis adalah spesies manusia kuno asli dan bukan keturunan manusia yang sehat dikerdilkan oleh penyakit. Menggunakan analisis statistik mengenai sisa spesimen kerangka Homo floresiensis yang masih terawat baik, para peneliti menganggap "hobbit" adalah spesies yang berbeda dan bukan versi cacat secara genetik yang menimpa manusia modern. Rincian studi muncul pada majalah Signifikansi dari Royal Statistical Society yang diterbitkan oleh Wiley-Blackwell pada edisi Desember.

Pada tahun 2003, ilmuwan Australia dan Indonesia menemukan fosil hominin (mirip manusia) bertubuh kecil dan juga berotak kecil, di sebuah pulau terpencil yang berada pada kawasan Flores di kepulauan Indonesia. Penemuan spesies manusia baru yang disebut Homo floresiensis ini telah memunculkan banyak perdebatan di kalangan para peneliti. Diantara mereka menyatakan bahwa makhluk kecil yang memiliki kepala dan otak kecil ini adalah hasil dari suatu kondisi medis yang disebut microcephaly.
Dua orang peneliti, William Jungers, Ph.D., dan Karen Baab, Ph.D. mempelajari sisa-sisa kerangka wanita (LB1) yang dijuluki "Little Lady of Flores" atau "Flo" untuk mengkonfirmasi jalur evolusi spesies hobbit. Spesimen ini sangat lengkap, terdiri atas tengkorak, rahang, lengan, tungkai, tangan, dan kaki yang sangat membantu penelitian untuk mendapatkan informasi yang cukup mengenai individu fosil.

Kapasitas tengkorak LB1 hanya sekitar 400 cm, membuatnya lebih mirip dengan otak simpanse atau bipedal "manusia kera" yang dijumpai di kawasan Timur dan Selatan wilayah Afrikan. Fitur tengkorak dan tulang rahang jauh terlihat lebih primitif dibanding pada manusia modern normal. Analisis statistik menunjukkan bahwa bentuk tengkorak manusia modern diklasifikasikan dalam kelompok satu, sedangkan manusia microcephalic dan jenis manusia kuno lainnya berada pada kelompok ketiga.

Karena fosil LB1 ditemukan dalam keadaan lengkap, para ilmuwan mampu merekonstruksi desain tubuh species ini yang ternyata berbeda dengan manusia modern. Tulang paha dan tulang kering yang dimiliki LB1 lebih pendek dibanding yang dimiliki manusia modern termasuk pigmi Afrika Tengah, Afrika Selatan KhoeSan (sebelumnya dikenal sebagai 'bushmen ") dan" Negrito "pigmi dari Kepulauan Andaman dan Filipina. Beberapa peneliti berspekulasi bahwa hal ini dapat mewakili korelasi pembalikan evolusi dengan teori "pengkerdilan tubuh". "Sulit untuk percaya bahwa perubahan evolusioner akan menyebabkan kemampuan bergerak yang kurang ekonomis. Itu tidak masuk akal bahwa evolusi yang dialami spesies ini menyebabkannya memiliki tulang paha dan kaki menjadi lebih pendek. Karena ukuran kaki yang lebih panjang secara teori lebih meningkatkan kemampuan dalam berjalan." kata Dr Jungers.

Analisis lebih lanjut tetap menggunakan persamaan regresi yang dikembangkan oleh Dr Jungers menunjukkan bahwa LB1 memiliki tinggi sekitar 106 cm (3 kaki, 6 inci), jauh lebih kecil dari pigmi dewasa modern yang bisa memiliki ukuran tinggi 150 cm (4 kaki, 11 inci). "Upaya untuk mengabaikan hobbit sebagai manusia patologis telah berulang kali gagal karena diagnosa medis dari sindrom pengerdilan dan microcephaly tak mirip dengan anatomi Homo floresiensis yang unik", kata Dr Baab.

sumber : eurekalert.org

Label:

Share   ikutiBUNYU ONLINE
 

Wallpaper foto kapal laut :


Judul Artikel:Homo floresiensis vs teori microcephaly
Alamat URL:http://www.bunyu-online.com/2009/11/homo-floresiensis-vs-teori-microcephaly.html