Riset limbah atsiri yang menghasilkan medali emas di MEA
Minggu, 20 Desember 2009
Meraih Emas Lewat Limbah Minyak Atsiri
Oleh : Sujud Dwi Pratisto, dan Arif Koes Hernawan
Puluhan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia tampak tegang. Mereka sudah tak sabar menanti pemutaran film pendek dalam ajang The Mondialogo Engineering Award (MEA) di Stuttgart, Jerman, pertengahan November lalu. Maklum, film berdurasi 30 menit itu berisi tayangan delapan proposal proyek yang berhak mendapat anugerah medali emas. Film yang ditunggu-tunggu pun diputar. Ternyata salah satu proposal yang ditayangkan adalah karya tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tim anak negeri ini bersinergi dengan tim mahasiswa dari Chalmers University of Technology, Goteborg, Swedia. "Saya senang. Ternyata proposal proyek kami meraih medali emas," ujar Benny, anggota tim mahasiswa UGM, kepada Gatra di kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Sabtu dua pekan lalu.
MEA adalah ajang pemberian penghargaan bagi mahasiswa teknik sejagat. Penghargaan ini dibidani Mondialogo, forum dunia untuk kerja sama dan dialog antarbudaya. Uniknya, panitia mensyaratkan tim peserta adalah perpaduan antara mahasiswa universitas dari negara maju dan mahasiswa universitas dari negara berkembang. Penghargaan yang digelar sejak 2003 ini disponsori Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dan Daimler AG, pabrikan mobil asal Jerman yang terkenal dengan mobil kelas premium merek Mercedes-Benz.
Keberhasilan tim mahasiswa UGM meraih medali emas itu patut dibanggakan. Mereka menyisihkan 932 proposal proyek hasil karya para mahasiswa yang berasal dari hampir 100 perguruan tinggi di 28 negara, misalnya Singapura, Malaysia, Cina, dan Amerika Serikat. Selain meraih medali emas dan sertifikat, tim mahasiswa UGM juga memboyong hadiah uang tunai 15.000 euro atau Rp 213 juta bila kurs 1 euro setara dengan Rp 14.200.
Oleh : Sujud Dwi Pratisto, dan Arif Koes Hernawan
Puluhan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia tampak tegang. Mereka sudah tak sabar menanti pemutaran film pendek dalam ajang The Mondialogo Engineering Award (MEA) di Stuttgart, Jerman, pertengahan November lalu. Maklum, film berdurasi 30 menit itu berisi tayangan delapan proposal proyek yang berhak mendapat anugerah medali emas. Film yang ditunggu-tunggu pun diputar. Ternyata salah satu proposal yang ditayangkan adalah karya tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tim anak negeri ini bersinergi dengan tim mahasiswa dari Chalmers University of Technology, Goteborg, Swedia. "Saya senang. Ternyata proposal proyek kami meraih medali emas," ujar Benny, anggota tim mahasiswa UGM, kepada Gatra di kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Sabtu dua pekan lalu.
MEA adalah ajang pemberian penghargaan bagi mahasiswa teknik sejagat. Penghargaan ini dibidani Mondialogo, forum dunia untuk kerja sama dan dialog antarbudaya. Uniknya, panitia mensyaratkan tim peserta adalah perpaduan antara mahasiswa universitas dari negara maju dan mahasiswa universitas dari negara berkembang. Penghargaan yang digelar sejak 2003 ini disponsori Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dan Daimler AG, pabrikan mobil asal Jerman yang terkenal dengan mobil kelas premium merek Mercedes-Benz.
Keberhasilan tim mahasiswa UGM meraih medali emas itu patut dibanggakan. Mereka menyisihkan 932 proposal proyek hasil karya para mahasiswa yang berasal dari hampir 100 perguruan tinggi di 28 negara, misalnya Singapura, Malaysia, Cina, dan Amerika Serikat. Selain meraih medali emas dan sertifikat, tim mahasiswa UGM juga memboyong hadiah uang tunai 15.000 euro atau Rp 213 juta bila kurs 1 euro setara dengan Rp 14.200.
Patut dicatat pula, masih ada dua tim mahasiswa asal Indonesia yang meraih penghargaan MEA. Yakni tim mahasiswa Universitas Andalas, Padang, yang bekerja sama dengan Stanford University, Stanford, Amerika Serikat. Tim ini meraih medali perak dan uang tunai 1.000 euro. Selanjutnya, tim mahasiswa Universitas Udayana, Denpasar, dengan mahasiswa Flensburg University of Applied Sience, Flensburg, Jerman, meraih medali perunggu berikut uang tunai 5.000 euro.
Tim mahasiswa UGM terdiri dari empat mahasiswa jurusan teknik kimia. Mereka adalah Benny, Annisa Sekar Palupi, Annisa Utami, dan Muhammad Awqi Gibran. Namun hanya Benny yang dikirim mewakili tim ke Stuttgart. Di ajang ini, Benny dan Marcus Hogberg dari Chalmers University, Swedia, menyampaikan presentasi proposal proyek tim mereka di hadapan para juri. "Setiap tim diberi jatah presentasi 10 menit," kata Benny.
Presentasi Benny dan Marcus mampu membuat kagum dewan juri yang terdiri dari para pakar lingkungan, petinggi UNESCO, dan Daimler. Tak mengherankan, ketika menyampaikan sambutan, dewan juri menyatakan bahwa proposal proyek berjudul "Zero Waste Production System in Small or Medium Industrial Cluster as The Core of Sustainable Innovation Villages" itu punya sejumlah keunggulan dibandingkan dengan proposal peserta lain. "Kreatif dalam memanfaatkan limbah industri dan sangat fleksibel serta dekat dengan masyarakat," Benny mengutip penyataan dewan juri ketika mengomentari keunggulan proposal timnya.
Keikutsertaan empat mahasiswa UGM dalam ajang MEA itu bermula dari kegiatan penelitian mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Mereka tercatat sebagai mahasiswa relawan di Chain Center, badan penelitian untuk pengabdian masyarakat yang dibentuk Jurusan Teknik Kimia UGM. "Ide proposal kami dapat setelah melakukan penelitian di Samigaluh," tutur Benny.
Samigaluh terkenal sebagai sentra penghasil cengkeh. Selain dijual untuk bahan baku pembuatan rokok, warga Samigaluh juga memanfaatkan hasil cengkeh mereka untuk membuat minyak atsiri. Di lokasi ini, sedikitnya ada 15 industri pengolahan atau penyulingan minyak atsiri. Rata-rata industri yang termasuk kelompok usaha kecil dan menengah itu melakukan dua kali proses pengolahan minyak atsiri dalam satu hari.
Untuk satu kali proses pengolahan, dibutuhkan 500 kilogram daun dan batang cengkeh serta nilam. Dari 500 kilogram bahan tadi, hanya dihasilkan sekitar 2,5% minyak atsiri atau 12,5 kilogram. Sisanya berupa limbah yang berwujud ampas daun dan batang cengkeh serta limbah cair. Ironisnya, selama ini, limbah atsiri itu dibuang begitu saja ke sungai. Akibatnya, air tanah dan air sungai tercemar limbah atsiri. Debit air pun mengalami penurunan.
Nah, para mahasiswa mencoba mencari akal untuk memanfaatkan limbah minyak atsiri tersebut. Solusi ditemukan. Muncul gagasan dari mahasiswa agar limbah ampas daun dan batang cengkeh itu digunakan sebagai bahan bakar untuk industri pembuatan tahu. Sementara itu, limbah cair yang masih mengandung minyak atsiri dijadikan sabun herbal. "Caranya, dengan mencampur limbah cair minyak atsiri dengan ampas daun dan batang cengkeh," Benny menguraikan.
Tak hanya memikirkan masalah limbah, para mahasiswa juga mencari solusi untuk meningkatkan pendapatan para pemilik industri pengolahan minyak atisri. Dari hasil penelitian, para mahasiswa menyimpulkan bahwa pemasaran produk yang dilakukan warga Samigaluh tidak menguntungkan. Umumnya mereka menjual minyak atsiri kepada tengkulak yang datang ke desa-desa dengan harga murah.
Padahal, kalau dijual untuk kebutuhan ekspor, harga minyak atsiri bisa melambung tinggi. "Kami mengusulkan perlunya pembinaan sumber daya manusia untuk meningkatkan pemasaran minyak atsiri," kata Annisa Sekar, yang akrab disapa Icha.
Untuk menuangkan gagasan-gagasan itu, para mahasiswa membuat proposal proyek. Tiba-tiba saja muncul ide dari Icha dan Annisa Utami untuk mengikutsertakan proposal mereka pada ajang MEA. Apalagi, tim Jurusan Teknik Fisika UGM pernah meraih emas dalam ajang MEA 2007 di Mumbai, India. Setelah seluruh anggota tim sepakat, mereka mulai menyempurnakan proposal proyek itu.
Namun masih ada satu persyaratan yang harus mereka penuhi: kerja sama dengan mahasiswa universitas dari negara maju. "Semua karya proposal harus mencerminkan kerja sama antara negara maju dan negara berkembang," ujar Benny. Pilihan jatuh pada Chalmers University of Technology, Goteborg, Swedia.
Alasannya, menurut Benny, Jurusan Teknik Kimia UGM sudah lama menjalin kerja sama penelitian dan akademik dengan Chalmers University of Technology. Beberapa dosennya pernah mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu di kampus yang terkenal kampiun dalam bidang penelitian biogas itu.
Selesai urusan memilih partner, tiba giliran menentukan pembagian tugas masing-masing. Karena objek penelitian berada di Yogyakarta, tim mahasiswa UGM-lah yang menyusun data hasil penelitian lapangan. "Sedangkan tim mahasiswa Chalmers menangani solusi pengolahan limbah dan biogasnya dengan mempelajari data lapangan yang secara rutin kami kirimkan melalui e-mail," kata Benny.
Salah satu dosen pembimbing penelitian tim ini, Agus Prasetya, menyatakan bangga atas prestasi anak didiknya. Menurut Agus, penelitian anak didiknya itu sangat relevan dengan masalah yang dihadapi di negara berkembang, seperti Indonesia. "Mereka melakukan sinergi industri kecil menengah sedemikian rupa sehingga menjadikan limbah minimal, energi minimal, tapi efisiensinya meningkat," ujar Agus. Agus berharap, karya itu bisa menjadi contoh untuk mahasiswa dan masyarakat Indonesia. "Sebagai model, sangat aplikatif," ia menegaskan.
sumber : gatra.com
Tim mahasiswa UGM terdiri dari empat mahasiswa jurusan teknik kimia. Mereka adalah Benny, Annisa Sekar Palupi, Annisa Utami, dan Muhammad Awqi Gibran. Namun hanya Benny yang dikirim mewakili tim ke Stuttgart. Di ajang ini, Benny dan Marcus Hogberg dari Chalmers University, Swedia, menyampaikan presentasi proposal proyek tim mereka di hadapan para juri. "Setiap tim diberi jatah presentasi 10 menit," kata Benny.
Presentasi Benny dan Marcus mampu membuat kagum dewan juri yang terdiri dari para pakar lingkungan, petinggi UNESCO, dan Daimler. Tak mengherankan, ketika menyampaikan sambutan, dewan juri menyatakan bahwa proposal proyek berjudul "Zero Waste Production System in Small or Medium Industrial Cluster as The Core of Sustainable Innovation Villages" itu punya sejumlah keunggulan dibandingkan dengan proposal peserta lain. "Kreatif dalam memanfaatkan limbah industri dan sangat fleksibel serta dekat dengan masyarakat," Benny mengutip penyataan dewan juri ketika mengomentari keunggulan proposal timnya.
Keikutsertaan empat mahasiswa UGM dalam ajang MEA itu bermula dari kegiatan penelitian mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Mereka tercatat sebagai mahasiswa relawan di Chain Center, badan penelitian untuk pengabdian masyarakat yang dibentuk Jurusan Teknik Kimia UGM. "Ide proposal kami dapat setelah melakukan penelitian di Samigaluh," tutur Benny.
Samigaluh terkenal sebagai sentra penghasil cengkeh. Selain dijual untuk bahan baku pembuatan rokok, warga Samigaluh juga memanfaatkan hasil cengkeh mereka untuk membuat minyak atsiri. Di lokasi ini, sedikitnya ada 15 industri pengolahan atau penyulingan minyak atsiri. Rata-rata industri yang termasuk kelompok usaha kecil dan menengah itu melakukan dua kali proses pengolahan minyak atsiri dalam satu hari.
Untuk satu kali proses pengolahan, dibutuhkan 500 kilogram daun dan batang cengkeh serta nilam. Dari 500 kilogram bahan tadi, hanya dihasilkan sekitar 2,5% minyak atsiri atau 12,5 kilogram. Sisanya berupa limbah yang berwujud ampas daun dan batang cengkeh serta limbah cair. Ironisnya, selama ini, limbah atsiri itu dibuang begitu saja ke sungai. Akibatnya, air tanah dan air sungai tercemar limbah atsiri. Debit air pun mengalami penurunan.
Nah, para mahasiswa mencoba mencari akal untuk memanfaatkan limbah minyak atsiri tersebut. Solusi ditemukan. Muncul gagasan dari mahasiswa agar limbah ampas daun dan batang cengkeh itu digunakan sebagai bahan bakar untuk industri pembuatan tahu. Sementara itu, limbah cair yang masih mengandung minyak atsiri dijadikan sabun herbal. "Caranya, dengan mencampur limbah cair minyak atsiri dengan ampas daun dan batang cengkeh," Benny menguraikan.
Tak hanya memikirkan masalah limbah, para mahasiswa juga mencari solusi untuk meningkatkan pendapatan para pemilik industri pengolahan minyak atisri. Dari hasil penelitian, para mahasiswa menyimpulkan bahwa pemasaran produk yang dilakukan warga Samigaluh tidak menguntungkan. Umumnya mereka menjual minyak atsiri kepada tengkulak yang datang ke desa-desa dengan harga murah.
Padahal, kalau dijual untuk kebutuhan ekspor, harga minyak atsiri bisa melambung tinggi. "Kami mengusulkan perlunya pembinaan sumber daya manusia untuk meningkatkan pemasaran minyak atsiri," kata Annisa Sekar, yang akrab disapa Icha.
Untuk menuangkan gagasan-gagasan itu, para mahasiswa membuat proposal proyek. Tiba-tiba saja muncul ide dari Icha dan Annisa Utami untuk mengikutsertakan proposal mereka pada ajang MEA. Apalagi, tim Jurusan Teknik Fisika UGM pernah meraih emas dalam ajang MEA 2007 di Mumbai, India. Setelah seluruh anggota tim sepakat, mereka mulai menyempurnakan proposal proyek itu.
Namun masih ada satu persyaratan yang harus mereka penuhi: kerja sama dengan mahasiswa universitas dari negara maju. "Semua karya proposal harus mencerminkan kerja sama antara negara maju dan negara berkembang," ujar Benny. Pilihan jatuh pada Chalmers University of Technology, Goteborg, Swedia.
Alasannya, menurut Benny, Jurusan Teknik Kimia UGM sudah lama menjalin kerja sama penelitian dan akademik dengan Chalmers University of Technology. Beberapa dosennya pernah mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu di kampus yang terkenal kampiun dalam bidang penelitian biogas itu.
Selesai urusan memilih partner, tiba giliran menentukan pembagian tugas masing-masing. Karena objek penelitian berada di Yogyakarta, tim mahasiswa UGM-lah yang menyusun data hasil penelitian lapangan. "Sedangkan tim mahasiswa Chalmers menangani solusi pengolahan limbah dan biogasnya dengan mempelajari data lapangan yang secara rutin kami kirimkan melalui e-mail," kata Benny.
Salah satu dosen pembimbing penelitian tim ini, Agus Prasetya, menyatakan bangga atas prestasi anak didiknya. Menurut Agus, penelitian anak didiknya itu sangat relevan dengan masalah yang dihadapi di negara berkembang, seperti Indonesia. "Mereka melakukan sinergi industri kecil menengah sedemikian rupa sehingga menjadikan limbah minimal, energi minimal, tapi efisiensinya meningkat," ujar Agus. Agus berharap, karya itu bisa menjadi contoh untuk mahasiswa dan masyarakat Indonesia. "Sebagai model, sangat aplikatif," ia menegaskan.
sumber : gatra.com
Label: IPTEK
Share
| Tweet | Follow @bunyuonline |
BISNIS TIKET PESAWAT ONLINEDirekomendasikan bagi Anda yang ingin memiliki dan mengelola bisnis penjualan tiket pesawat secara online, murah, mudah, cepat, dan aman. untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
artikel terkait :
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Riset limbah atsiri yang menghasilkan medali emas di MEA |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2009/12/riset-limbah-atsiri-yang-menghasilkan.html |
