Hasil penelitian : Zona G-Spot hanya mitos
Jumat, 08 Januari 2010
Zona MisteriusPencarian selama bertahun-tahun yang membuat banyak pasangan putus asa mungkin tak ada artinya. Penelitian di Inggris menyimpulkan bahwa G-spot, zona misterius kepuasan seksual kaum hawa, hanya mitos semata.
G-spot atau The Grafenberg Spot diklaim Ernst Grafenberg, seorang ahli kebidanan terkenal, sejak 50 tahun lalu. Grafenberg mengatakan G-spot berada sekitar 2-5 sentimeter dari mulut vagina. "Sekitar sepertiga dari dinding dalam bagian depan. Bagian dua pertiganya lagi adalah area reproduksi," kata Dr Ferryal Loetan, konsultan seksual dan spesialis rehabilitasi, di kliniknya di kawasan Kalibata, Jakarta.
Selama bertahun-tahun lokasi G-spot ini terus jadi perdebatan. "Jangan lupa bahwa ketika Grafenberg melakukan penelitian, masyarakat belum bicara seterbuka sekarang, dan mungkin sampelnya kecil saja," kata Ferryal.
Penelitian The King's College London, yang dilansir pada Januari 2010, melibatkan 1.804 perempuan berusia 23-83 tahun. Subyek penelitian adalah pasangan kembar identik dan non-identik. Awalnya peneliti berasumsi, jika salah seorang mengatakan punya G-spot, saudara kembar identiknya yang berbagi gen yang sama pasti juga memilikinya. Tapi pola ini ternyata tak muncul.
Kembar identik ternyata tak selalu sama-sama memiliki G-spot ketimbang kembar tak identik, yang hanya berbagi separuh dari gen yang sama. Sebanyak 56 persen perempuan yang mengaku memiliki G-spot cenderung berusia lebih muda dan lebih aktif secara seksual. "Ada perempuan berkilah menemukan G-spot melalui diet dan olahraga. Tapi faktanya ini tak mungkin," kata Professor Tim Spector, peneliti topik yang diterbitkan Journal of Sexual Medicine.
Namun Beverley Whipple, seksolog yang ikut mempopulerkan G-spot, mengatakan penelitian Spector ada cacatnya. "Peneliti tidak mempertimbangkan para perempuan yang memiliki pengalaman seksual berbeda atau dengan pasangan yang berbeda," katanya. Whipple adalah profesor emeritus dari Rutgers University, New Jersey, yang pernah meneliti G-spot pada 400 perempuan.
Tahun lalu, ilmuwan Italia mengklaim bahwa mereka bisa menemukan lokasi G-spot menggunakan pemindai ultrasound. Penelitian oleh Dr Emmanuele Jannini dari University of L'Aquila ini dipublikasikan Journal of Sexual Medicine. Dari 20 orang perempuan yang dilibatkan, peneliti menemukan, jaringan yang lebih tebal pada area yang diduga sebagai G-spot ada pada perempuan yang mengalami orgasme. "Ini metode yang sangat mudah, murah, dan sederhana untuk menentukan apakah seorang perempuan punya G-spot atau tidak," kata Jannini. Tapi penelitian Jannini dianggap bisa membuat cemas perempuan yang tak mampu menemukan G-spot.
Dr Petra Boynton, psikolog seksual dari University College London, mengatakan banyak isu yang berkembang seputar G-spot ini. "Sangat tidak menolong dengan melabeli perempuan yang tidak bisa menemukan G-spot sebagai disfungsional," katanya.
Hal senada disampaikan Ferryal. "Perempuan itu adalah makhluk yang unik. Daerah sensitifnya masing-masing tak sama dan tak selalu di tempat yang sama," ujarnya. Salah satu sebabnya, Ferryal melanjutkan, adalah tiap perempuan mengalami masa pertumbuhan yang berbeda hingga ke tingkatan sel.
"Paling adil adalah mengatakan bahwa ide adanya G-spot sifatnya sangat subyektif," Petra menambahkan. "Jika perempuan menghabiskan waktu untuk khawatir apakah ia normal atau tidak, apakah ia punya G-spot atau tidak, ia hanya akan fokus pada area itu dan tak peduli pada hal lain."
Lalu, apa yang mesti dilakukan? Menurut Ferryal, tiap pasangan harus menemukannya sendiri lewat eksplorasi. "Komunikasi yang terbuka antarpasangan sangat diperlukan. Sayangnya, perempuan Indonesia masih banyak yang malu-malu bicara dan, malah, berbagi informasi hanya pada peer group-nya. Iya kalau dapat informasi yang benar. Seringnya malah berbagi informasi yang salah," kata Ferryal. Ferryal juga menggarisbawahi pentingnya mendapatkan informasi yang benar pada sumber yang tepat. Itu dimulai dengan konsultasi sebelum adanya pernikahan. "Konsultasi premarital juga akan meliputi tes kesehatan yang penting untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan kuat."
sumber :
tulisan : tempointeraktif.com
gambar : gpulserampantrabbit.co.uk
Kembar identik ternyata tak selalu sama-sama memiliki G-spot ketimbang kembar tak identik, yang hanya berbagi separuh dari gen yang sama. Sebanyak 56 persen perempuan yang mengaku memiliki G-spot cenderung berusia lebih muda dan lebih aktif secara seksual. "Ada perempuan berkilah menemukan G-spot melalui diet dan olahraga. Tapi faktanya ini tak mungkin," kata Professor Tim Spector, peneliti topik yang diterbitkan Journal of Sexual Medicine.
Namun Beverley Whipple, seksolog yang ikut mempopulerkan G-spot, mengatakan penelitian Spector ada cacatnya. "Peneliti tidak mempertimbangkan para perempuan yang memiliki pengalaman seksual berbeda atau dengan pasangan yang berbeda," katanya. Whipple adalah profesor emeritus dari Rutgers University, New Jersey, yang pernah meneliti G-spot pada 400 perempuan.
Tahun lalu, ilmuwan Italia mengklaim bahwa mereka bisa menemukan lokasi G-spot menggunakan pemindai ultrasound. Penelitian oleh Dr Emmanuele Jannini dari University of L'Aquila ini dipublikasikan Journal of Sexual Medicine. Dari 20 orang perempuan yang dilibatkan, peneliti menemukan, jaringan yang lebih tebal pada area yang diduga sebagai G-spot ada pada perempuan yang mengalami orgasme. "Ini metode yang sangat mudah, murah, dan sederhana untuk menentukan apakah seorang perempuan punya G-spot atau tidak," kata Jannini. Tapi penelitian Jannini dianggap bisa membuat cemas perempuan yang tak mampu menemukan G-spot.
Dr Petra Boynton, psikolog seksual dari University College London, mengatakan banyak isu yang berkembang seputar G-spot ini. "Sangat tidak menolong dengan melabeli perempuan yang tidak bisa menemukan G-spot sebagai disfungsional," katanya.
Hal senada disampaikan Ferryal. "Perempuan itu adalah makhluk yang unik. Daerah sensitifnya masing-masing tak sama dan tak selalu di tempat yang sama," ujarnya. Salah satu sebabnya, Ferryal melanjutkan, adalah tiap perempuan mengalami masa pertumbuhan yang berbeda hingga ke tingkatan sel.
"Paling adil adalah mengatakan bahwa ide adanya G-spot sifatnya sangat subyektif," Petra menambahkan. "Jika perempuan menghabiskan waktu untuk khawatir apakah ia normal atau tidak, apakah ia punya G-spot atau tidak, ia hanya akan fokus pada area itu dan tak peduli pada hal lain."
Lalu, apa yang mesti dilakukan? Menurut Ferryal, tiap pasangan harus menemukannya sendiri lewat eksplorasi. "Komunikasi yang terbuka antarpasangan sangat diperlukan. Sayangnya, perempuan Indonesia masih banyak yang malu-malu bicara dan, malah, berbagi informasi hanya pada peer group-nya. Iya kalau dapat informasi yang benar. Seringnya malah berbagi informasi yang salah," kata Ferryal. Ferryal juga menggarisbawahi pentingnya mendapatkan informasi yang benar pada sumber yang tepat. Itu dimulai dengan konsultasi sebelum adanya pernikahan. "Konsultasi premarital juga akan meliputi tes kesehatan yang penting untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan kuat."
sumber :
tulisan : tempointeraktif.com
gambar : gpulserampantrabbit.co.uk
Label: SERBA-SERBI
| Share |
|
| Tweet | Follow @bunyuonline |
Wallpaper foto kapal laut :
| Judul Artikel | : | Hasil penelitian : Zona G-Spot hanya mitos |
| Alamat URL | : | http://www.bunyu-online.com/2010/01/hasil-penelitian-zona-g-spot-hanya.html |
